Friday, April 22, 2011

Silahkan, Karna Sedang Bermuka Tebal..

ITS LIKE A HELL FOR ME!! Hari ini, setiap jam, setiap menit, setiap detiknya. Bukanlah hari yang aku inginkan! Make me shy, so tired, make me died! Oh my god, please help me! Terkadang, aku berfikir, kenapa juga aku harus tumbuh dengan sifat yang perfeksionis dalam diri ini? Dan sekarang, aku harus bertanggung jawab atas segala yang ada, atas segala sifat dan sikap itu! Aku capek! Aku ngga pengen seperti ini terus. Menanggung beban tanggung jawab yang berat. Ingin rasanya bisa seperti yang lain. Cuek, masa bodoh, yah, begitulah. Yang ngga terlalu memikirkan hal kecil menjadi suatu hal yang besar. Yang ngga terlalu memaksakan segalanya agar menjadi sempurna dan harus tertata rapi sesuai dengan alurnya. Yang begitulah pokoknya!!!

Aku capek! Aku mau bisa bebas. Aku mau juga seperti yang lainnya. Memiliki beban pikiran yang biasa aja. Tapi kenapa aku ngga bisa? Aku yang ngga mau nantinya terlihat ngga baik, yang ngga bagus, yang ngga sempurna, yang urakan, yang lain-lainnya. Hoh, beratnya!

Seperti hari ini. Aku harus benar-benar banting tubuh buat memenuhi tanggung jawab yang telah diberikan. Padahal, aku sudah melimpahkannya kepada yang lain, tapi kenapa ujung-ujungnya tetep aku juga yang ngejalaninya? Ini ngga adil memang, tapi inilah kenyataannya.

Puas rasanya untuk bermuka tebal, puas untuk siap-siap ditertawakan, puas, dan sangat puas sekali! Sekali lagi aku akan mengatakan bahwa "Life is an adventure!" Bagaikan tengah bermain off road, sekarang aku lagi ada di tepian jurang. Jika navigator dan awak lainnya salah dalam mengambil tindakan, maka selesailah semuanya. Aku bakal nyemplung ke dasar jurang. Aku pertaruhkan semuanya. Tebal muka, kuras tenaga, kehabisan akal, and everything! Mestinya aku ngga boleh menggerutu. Harusnya aku tetap sabar dengan segala rintangan yang aku alami. Seorang teman mengatakan, "Bukannya bagus kalo otak selalu digunakan untuk berpikir? Jadi otak kita akan terus terasah." Oh yeah? Thanks for your advice! Tapi tetep saja, itu ngga bisa meringankan beban yang saat ini tengah aku emban.

Once more, i hate my citation, ambassador of language! Aku rasa, sampai sekarang, dewan juri yang terhormat telah salah memberikan kesempatan untukku menyandang gelar yang "terhormat" ini. Jika kenyataannya, aku ngga bisa menjaga lisanku untuk berkata yang baik! I'm depression.

Dengan segala kenyataan hidup yang ada, aku tak menemukan seseorang yang bisa membantuku meringankan beban ini. Who care to me? No one. Mereka juga punya masalah sendiri. Ngga adil kalo cuma aku yang selalu berceloteh mengungkapkan kegelisahan yang tengah aku jalani. Tapi aku benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa mengerti akan semua yang terjadi. I need you, mom! Miss you! Bring me together to your paradise.

Berhenti untuk sempurna! Yeah, that's good idea! melakukan lelucon aneh dan konyol, bergaya semaumu tanpa harus khawatir akan celaan dari orang lain. Tapi, haruskah?

I hate to be perfect!

Saturday, April 16, 2011

Aliran Penelitian Sastra

Ciri Aliran Penelitian Klasik

Aliran penelitian sastra adalah sebuah kecendrungan yang tampil pada suatu zaman. Setiap era kadang-kadang memiliki tendensi yang berbeda-beda, sehingga melahirkan aliran tertentu pula. Berbagai aliran sastra memang cukup banyak jumlahnya. Setiap aliran sastra, disadari atau tidak juga telah mewarnai lahirnya berbagai model atau pendekatan penelitian sastra. Oleh karena itu, setiap peneliti kadang-kadang terbawa arus dan secara sadar mengikuti aliran tersebut.

Pendekatan klasik penelitian sastra, pada awalnya berasal dari Yunani dan Romawi Kuno. Penelitian sastra yang selalu mengandalkan logika, akal, dan menekankanbahwa karya sastra harus memenuhi fungsinya, termasuk penelitian klasik. Penelitian klasik yang sering dinamakan dengan penelitian tradisional, memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

a. Hasil penelitian sastra harus sejalan dengan tujuan yang disampaikan penulisnya. Dalam kaitan ini, penulis diasumsikan orang yang bijak dan selalu berpikiran jernih.

b. Penelitian sastra menggunakan pendekatan klasik biasanya menekankan pada ajaran moral karya sastra. Oleh karen itu, diharapkan karya sastra dapat mendidik pembacadan memperbaharui akhlak manusia.

Dalam pandangan peneliti yang menerapkan pendekatan klasik, karya sastra bersifat statis. Karya sastra bersifat artefak yang sulit berubah.

Sedangkan untuk kelemahan penelitian sastra klasik yakni sering terjadinya bias makna. Peneliti telah membawa bekal asumsi bahwa karya-karya yang telah diteliti bernilai tinggi, tentu hasilnya pun akan ke arah itu. akibatnya, ada karya-karya yang dianggap “kacangan” atau bernilai rendah. Peneliti seakan-akan “mendewakan” karya pujangga, termasuk karya-karya ajaran yang anonim sebagai objek penelitian.

B. Penelitian Beraliran Ekspresivisme

1. Munculnya Ekspresivisme

Penelitian ekspresivisme sastra adalah model penelitian yang jarang dilakukan oleh peneliti sastra. Penelitian yang berupa kajian semi-psikologis ini, mungkin kurang menarik dan atau dipandang kurang menguntungkan bagi peneliti. Peneliti sering merasa kesulitan jika harus berhubungan langsung dengan pengarangnya. Mungkin karena pengarangnya telah tiada atau jauh dari pembaca.

Penelitian eskpresivisme lebih memandang karya sastra sebagai ekspresi dunia batin pengarangnya. Karya sastra diasumsikan sebagai curahan gagasan, angan-angan, cita-cita, citarasa, pikiran, kehendak, dan pengalaman batin pengarang.

Penelitian eskpresivisme lebih mendasarkan pada aspek latar belakang kepengarangan, kepribadian, dan hal ihwal yang melingkupi kehidupan pengarang. Berbagai hal ini akan diungkap oleh peneliti untuk melengkapi pemahaman tentang teks sastra. Penelitian semacam ini merupakan studi sistematis tentang psikologis pengarang dan proses kreatifnya.

Penelitian sastra ekspresivisme akan lebih menguntungkan manakala si pengarang masih hidup dan mudah dihubungi atau diajak berkomunikasi. Jika sang pengarang telah meninggal dunia, peneliti juga dapat menanyakannya pada saudara atau kerabat terdekat. Dengan kata lain, model life history atau studi biografi lengkap akan membantu peneliti eskpresivisme.

Ekspresivisme pertama kali dipelopori oleh Longinus. Ia menyatakan bahwa ciri khas dan ukuran seni sastra yang bermutu adalah keluhuran (yang luhur, agung, unggul, mulia) sebagai sumber utama pemikiran dan perasaan pengarang. Sumber keluhuran itu antara lain karya yang mengekspresikan daya wawasan yang agung, emosi yang mulia, retorika yang unggul, pengungkapan dan pengubahan yang mulia.

C. Penelitian Beraliran Romantisme

Penelitian sastra aliran romantisme selalu berprinsip bahwa karya sastra merupakan cermin kehidupan realistik. Karya sastra adalah kisah kehidupan manusia yang penuh liku-liku. Pengungkapan ralitas kehidupan tersebut menggunakan bahasa yang indah, sehingga dapat menyentuh emosi pembaca. Keindahan menjadi fokus penting dalam kajian romantisme.

Penelitian romantisme biasanya terfokus pada karya-karya yang melukiskan kehidupan seksual secara detail. Lukisan kehidupan seks yang penuh birahi ini, justru menarik perhatian peneliti. Oleh karena peneliti telah mengasumsikan bahwa karya sastra yang bermutu adalah karya sastra yang mampu melukiskan kehidupan sedetail mungkin.

Penelitian romantisme biasanya berkiblat pada kerinduan hal-hal yang bersifat klasik dan tradisional. Para peneliti umumnya mengagungkan nilai-nilai lama yang luhur. Peneliti romantik juga sering tertarik pada subyek penelitian berupa legenda-legenda, mitos, dan dongeng supranatural. Asalkan karya-karya tersebut berkonteks “the far away, the long ago”, peneliti menjadi sanagt tertarik. Karya demikian dipandang memiliki otentisitas yang luar biasa.

Poin penting dalam penelitian romantik adalah tentang (1) kesungguhan hati (sincerity), (2) keaslian (genuineness), (3) keakuratan (adequacy) dalam mengungkapkan visi dan pemikiran individual si pencipta. Tolok ukur kualitas karya sastra adalah masalah: orisinalitas, kreativitas, kejeniusan, dan individualitas.

D. Penelitian Beraliran Simbolisme dan Mistisisme

Aliran simbolik biasanya berupa karya yang mengungkapkan pikiran dan perasaan menggunakan simbol tertentu. Simbol-simbol itu diabstraksikan agar pembaca semakin tertarik dan penasaran. Simbol yang biasa digunakan adalah benda-benda atau makhluk di luar manusia.

Melalui aliran simbolik, banyak muncul dongeng-dongeng, legenda, dan mite. Cerita semacam ini merupakan gambaran hidup manusia, meskipun tokoh-tokohnya sebagian besar adalah binatang.

Aliran simbolik biasanya dianut oleh pengarang yang telah mapan dan menegndap daya imajinasinya. Melalui simbol-simbol tersebut, pengarang lebih bebas mengekspresikan isi hatinya.

Diantara langkah yang seharusnya ditempuh oleh peneliti sastra simbolik, yakni: (1) memilih karya-karya yang memuat simbol, (2) membaca cermat karya simbolik tersebut, kemudian memasukkan data-data yang memuat simbol, (3) simbol tersebut dikategorikan sehingga satu dengan yang lain mudah dimengerti, (4) penafsiran makna simbol yang adal dalam karya sastra tersebut. Makna sebaiknya selalu dikembalikan ke dalam konteks struktur dan konteks zaman. Dan (5) temukan implikasi dan relevansi simbol tersebut dengan era yang sedang berjalan.

Sedangkan karya yang berbau mistik, hanya bisa dipahami ketika peneliti memahami konsep mistik tersebut secara fasih. Tanpa pemahaman mistik itu, peneliti akan terhambat dalam menafsirkan teks. Karenanya, pada ssaat peneliti melakukan penafsiran sastra simbolik, surrealis, dan mistik perlu bekal konsep kehidupan yang jelas.

(Sumber: Buku Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi Karya Suwardi Endraswara)

Thursday, April 14, 2011

Live Is An Advanture...


Kalo baca judul di atas, kayaknya emang bener bahwa hidup itu laiknya sebuah petualangan. Abis gimana ya, emang ngga bakalan asyik buat ngejalanin hidup jika semuanya berjalan lurus-lurus aja (jalan tol kale...). Tapi emang bener kok! Justru dengan rule kehidupan yang kayak gitu, bosan banget pastinya!
Seperti saat ini. Rasanya kalo boleh bilang, cukup ribet ngatur kegiatan bulan sastra tahun ini. Bisa dibilang, this is for the first time for our, para mahasiswa B.Indonesia. Alih-alih mau mengukir sejarah karena kevakuman organisasi di beberapa waktu sebelumnya, yang ada malah sekarang pikiran semua para panitia cenat-cenut deh... And specialy for me, CO.Acara kegiatan itu. Udah di siapn dari jauh-jauh hari, ujung-ujungnya, harus terbentur dengan masalah pencarian juri dan narasumber buat ngisi seminar. Oalah..... Pada kemana nih orang-orang!
Good! Waktu semakin mepet dan hal penting yang satu itu belum beres! Bukannya pusing sekedar cenat-cenut aja nih kepala, mau meledak iya juga deh...
Some body help me plise....!!!!

Thursday, April 7, 2011

Penelitian Formalisme dan Struturalisme Murni

A Model Formalisme Sastra

1. Karakteristik Formalisme

Formalis lahir akibat ketidakpuasan dengan penelitian ekspresivisme yang mengandalkan data biografis. Formalis juga menentang karya sastra sebagai ungkapan pandangan hidup atau iklim dari perasaan masyarakat. Ciri khas kaum formalis dalam kajiannua selalu tak setuju adanya perbedaan antara bentuk dan isi. Bentuk dan isi menurut mereka dapat didekati dari fungsinya, yaitu fungsi estetika sehingga menjadi karya sastra.

Penelitian formalis sastra biasanya berkiblat pada paham formalis Rusia. Dari aspek keilmuan, formalis sering dianggap paling menonjol dan dianggap sebagai tonggak keilmiahan penelitian sastra. Oleh karena itu, melalui hubungan perangkat struktur karya sastra akan dibangun sebuah keutuhan makna yang memenuhi standar ilmu. Perangkat struktur ini yang dinamakan unsur instrinsik karya sastra, dan unsur ini yang menjadikan penelitian struktural karya sastra lebih optimal.

Kaum formalis menekan dua konsep dalam penelitian sastra, yaitu defamiliarisasi dan deotomatisasi. Defamiliarisasi adalh konteks sifat sastra yang aneh atau asing. Keanehan tersebut sebagai hasil sulapan pengarang dari bahan-bahan netral. Para pengarang memiliki kebebasan menyulap teks sastra yang sangat berbeda dengan suasana sesungguhnya. Akibatnya, teks sastra boleh saja sulit dikenali karena menggunakan bahasa spesifik. Dalam hal ini, teks sastra kehilangan otomatisasi (deotomatisasi) untuk dipahami pembaca.

Para formalis juga memperkenalkan dikotomi struktur sastra (yang teroganisir) dan bahan mentah (tak terorganisir), menggantikan dikotomi lama tentang bentuk dan isi. Kaum formalis juga lebih terfokus meneliti aspek-aspek penyulapan ataupun pengasingan dari material sastra menjadi cipta seni sastra yang unik. Penyulapan sendiri ialah daya juang estetika untuk membungkus kenyataan menjadi sebuah imajinasi menarik. Dan pengasingan adalah proses kreatif yang mampu menciptakan dunia tersendiri dalam sastra. Melalui pengasingan, sering terjadi unsur-unsur sastra yang menyolok dan di luar dugaan.

2. Analisis Formalis

Analisis formalis lebih menekankan pada hipotesis-hipotesis yang telah dibangun sebelumnya. Fokus analisis adalah pada efek-efek estetik yang dihasilkan oleh saran-sarana sastra, dan bagaimana kesastraan dibedakan dengan serta dihubungkan dengan ekstra sastra.

Kaum formalis lebih menekankan kajian sastra dalam kerangka linguistik. Dimana, karya sastra dipandang memiliki kekhususan dalam estetika dan stilistika. Kebebasan seorang penulis memainkan bahasa, akan menjadi sorotan utama analisis formalis. Dalam penelitian teks naratif, kaum formalis menekankan unsur-unsur cerita (fabula), alur (sjuzet), dan motif (Fokkema & Kunne-Ibsch, 1977:26-30).

Motif merupakan kesatuan terkecil dalam peristiwa yang diceritakan. Adapun alur adalah penyusunan motif-motif sebagai akibat penyulapan terhadap cerita. Alur bukan sekedar susunan peristiwa melainkan juga sarana yang dipergunakan pengarang untuk menyela dan menunda cerita.

B. Model Strukturalisme Murni

1. Prinsip Strukturalisme

Strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini, karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain.

Strukturalisme seebnarnya merupakan paham filsafat yang memandang dunia sebagai realitas berstruktur. Menurut Junus (1990:1) strukturalisme memang sering dipahami sebagai bentuk. Karya sastra adalah bentuk. Karena itu, strukturalisme sering dianggap sekadar formalisme modern. Namun ada kesamaan antara strukturalisme dan formalisme, dimana keduanya sama-sama mencari arti dari teks itu sendiri. Tetapi, melalui kehadiran Levi-Strauss dan Propp yang mencoba menganalisis struktur mitos, strukturalisme berkaitan pula dengan filsafat. Strukturalisme mampu menggambarkan pula pemikiran pemilik ceritera. Hal ini berarti bahwa strukturalisme baik dalam sastra modern maupun sastra tradisional, tetap akan berhubungan dengan hal-hal di luar struktur.

Menurut Jean Peaget (Hawkes, 1978:16) strukturalisme mengandung tiga hal pokok, yaitu pertama, gagasan keseluruhan (wholness), berarti bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah instrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (transformation), struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Dan ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain.

Ide dasar strukturalis adalah menolak kaum mimetik (yang menganggap karya sastra sebagai tiruan kenyataan), teori ekspresif (yang menganggap karya sastra sebagai ungkapan watak dan perasaan pengarang), dan menentang asumsi bahwa karya sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembaca. Pendek kata, strukturalisme menekankan pada otonomi penelitian sastra.

2. Kelebihan dan Kelemahan Strukturalisme

Penelitian struktural dipandang lebih obyektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Dengan tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis. Peneliti strukturalis biasanya mengandalkan pendekatan egosentrik, yaitu pendekatan penelitian yang berpusat pada teks itu sendiri.

Dalam penelitian struktural, penekanan pada relasi antar unsur pembangun teks sastra. Unsur teks hanya memperoleh arti penuh melalui relasi, baik relasi oposisi maupun relasi asosiasi. Relasi oposisi biasanya lebih berkembang pada dunia antropologi, sedangkan dunia sastra banyak menggunakan relasi asosiasi.

Penekanan strukturalis adalah memandang karya sastra sebagai teks mandiri. Penelitian dilakukan secara obyektif yaitu menekanan aspek instrinsik karya sastra. Keindahan teks sastra bergantung penggunaan bahasa yang khas dan relasi antar unsur yang mapan. Unsur-unsur itu tidak jauh berbeda dengan sebuah ‘artefak’ (benda seni) yang bermakna. Artefak itu terdiri dari unsur dalam teks seperti ide, tema, plot, latar, watak, tokoh, gaya bahasa, dan sebagainya yang saling terjalin rapi. Jalinan antar unsur tersebut akan membentuk makna yang utuh pada sebuah teks.

Beberapa kelemahan dari strukturalisme yaitu melalui struktural karya sastra seakan-akan diasingkan dari konteks fungsinya sehingga dapat kehilangan relevansi sosial, tercerabut dari sejarah, dan terpisah dari aspek kemanusiaan.

Analisis strukturalisme biasanya mengandalkan paham positivistik, yaitu berdasarkan tekstual. Peneliti membangun teori analisis struktural yang handal, kemudian diterapkan untuk menganalisis teks. Metode positivistik ini biasanya juga sering digunakan kaum formalis, yang mempercayai teks sebagai studi utama. Yang menjadi problem analisis strukturalisme antara lain pada pemilihan data teks.

3. Langkah Kerja

Langkah yang perlu dilakukan seorang peneliti struktural adalah sebagai berikut:

a. Membangun teori struktur sastra sesuai dengan genre yang diteliti.

b. Peneliti melakukan pembacaan sastra cermat, mencatat unsur-unsur struktur yang terkandung dalam bacaan itu.

c. Unsur tema, sebaiknya dilakkan terlebih dahulu sebelum membahas unsur lain, karena tema akan selalu terkait langsung secara komprehensif dengan unsur lain.

d. Setelah menganalisis tema, baru analisis alur, konflik, sudut pandang, gaya, setting, dan sebagainya andaikata berupa prosa.

e. Yang harus diingat, semua penafsiran unsur-unsur harus dihubungkan dengan unsur lain, sehingga mewujudkan kepaduan makna struktur.

f. Penafsiran harus dilakukan dalam kesadaran penuh akan pentingnya keterkaitan antar unsur. Analisis yang meninggalkan kepaduan struktur, akan bias dan menghasilkan makna yang mentah.

Tuesday, April 5, 2011

dan siapa yang peduli??

Siapa yang mau peduli? No one! Terus, apa lagi urusannya? Apalagi yang jadi permasalahannya? Kenapa? Ga terima dengan semua yang udah terjadi? Sayangnya, emang udah kejadian sih! Abis gimana dong? Ga mungkin juga seseorang itu ga berubah -baik itu sikap dan sifatnya-, karna masa iya ada sih orang yang mau jadi bodoh terus? Ga kan? Tuh makanya, manusia itu bisa aja berubah sewaktu-waktu tanpa terduga!
Kalo masih sibuk untuk ngurusin masalah aku sama cowokku -lagi- terserah deh... Angkat tangan! Buktinya, emang ada orang yang sulit untuk berubah. Tapi apa itu pertanda bahwa kita wajib untuk memusuhinya?
Helllooooowwww...! Plis deh! Aku ini cuma manusia biasa. Meskipun kalian pasti berpikir kalo aku ini bodoh (ga usah ngeles deh, jujur aja!) tapi, emangnya ada yang bisa mempermainkan hati? Beri tepuk tangan untuk mereka yang bisa memutarbalikkan perasaan! Plokk... plokk....
Sama juga dengan aku. Meskipun kemarin udah seribu satu macam sumpah serapah yang keluar karena aku 'dimainin' sama cowokku, tapi mau gimana lagi dong, hanya ada satu alasan klasik yang mungkin orang-orang kebanyakkan udah muak dengernya, coz i love him!
Seperti tadi yang udah digambarkan, my honey bunny sweety baby juga bukan makhluk yang sempurna! Sifat dan sikapnya udah aku coba untuk diarahkan. Tapi, kayaknya dia termasuk yang lebih suka maju beberapa langkah aja dibandingkan untuk berlari akan sesuatu (ngerti ga maksudnya?) Well, biar lebih gampang, dia cuma bisa berubah dikit aja, that's it! Terus, karena dia ga seperti apa yang kalian mau, lantas dia dimusuhi? Oh no...! Kejam amat sih bo'! Gitu-gitu, dia ciptaan Tuhan juga loh! Sama seperti elu-elu pade!
Mungkin kalian bisa bilang ga, tapi jangan bohongi aku dari sikap yang kalian tunjukkan. Oke, mungkin untuk beberapa waktu, aku bisa ikutan mengamini apa yang dia bilang, "Kalo mereka ga mau temenan sama gw, ga masalah juga. Temen gw banyak kok. Ga butuh juga kalo orangnya kayak mereka!" Upssss... Tapi ga mungkin dong aku telan bulat-bulat perkataan dia. Karena aku masih punya filter perasaan yang sangat peka. Tapi ga tau deh gimana dengan kalian?
Oke, dengan fakta yang ada dilapangan, aku udah cukup bisa menarik kesimpulan, kalo sahabat-sahabat aku ga suka dengan pasanganku. Nah, seandainya hal ini terjadi juga dengan kalian, apa yang bakal kalian lakukan? Coba kasih tau aku! Karena rasanya aku sudah kewalahan menanggapi sikap dingin kalian terhadap dia!
Kepikir ga sih kalo aku ini yang malah menjadi korbannya? Kalian ga sukanya sama dia, tapi secara ga langsung, efeknya kena juga ke aku! Apa mesti aku bersikap manis di depan kalian, tapi di belakangnya malah berbuat sebaliknya? Tapi kalian beruntung, aku bukan orang dengan tipe seperti itu!
Sekarang, buat curhat aja, udah ga ada lagi yang mau nanggepin. Katanya nih, "Aduh, udah males ah. Paling masalahnya itu-itu lagi" Yuhu guysss, nih orang lagi butuh semangat, bantuan untuk mengurangi keresahan hatinya, tapi apa, malah udah dibuat skak mat duluan!
Kalo emang gitu tanggepan kalian sekarang, well aku juga bisa maksa-maksa. Itu suka kalian ajalah...
Karena aku tau, kalian mulai tak peduli lagi...
Aku ga akan menyalahkan keadaan, waktu yang bergulir, dan segalanya. Terserah!!!

Sunday, April 3, 2011

Cerita Rakyat -Biasa-

Jambi heboh!!! Yang biasanya jalanan itu ga pernah ada kata macet, tapi kayaknya beberapa hari ini jalanan udah sama aja situasinya dengan kota-kota besar lainnya. Riuh bunyi klakson mobil-motor, terus para pengendaranya banyak menggerutu, mana cuaca panas banget lagi, great!

Karna kebetulan ada acara akbar -yang jarang-jarang terjadi- disini, semua jadi heboh! Belum lagi nih acara dihadiri sama Bapak-Bapak kita. Gimana ga rame coba suasananya? Sampe-sampe, aku ikutan gedek juga karna harus bermandikan asap knalpot dan debu jalanan gara-gara si Komo lewat :)

Seperti pagi ini. Kebetulan lagi nunggu angkot yang ngetem buat berangkat ke kampus. Disepanjang jalan, udah pada riweh liat mereka yang berseragam mondar-mandir kayak anak ayam (Wuih, sadis amat ya?) Abis gimana dong, aku rada-rada gatel aja harus melihat yang begituan. Pas lagi nunggu itu, kebetulan, disebelahnya ada pangkalan ojek. Kalo boleh jujur, aku suka banget deh sama sarapan pagi hari ini. Soalnya menu utama yang disediakan adalah obrolan polos dari rakyat biasa. Balik lagi sama Bapak-Bapak yang necis itu. Berhubung si Bapak akan mengunjungi suatu tempat hari ini, eh, malah jalan yang bakal dilewatinya harus disterilkan terlebih dahulu (udah kayak di rumah sakit aja, apa-apa mesti steril!) Alhasil, jalanan jadi ruwet! Ya iyalah, kendaraan rakyat harus pada diam di tempat dulu alias ga boleh lewat! Pada numpuk-numpuk deh tuh kayak ikan dencis kalengan! Setiap yang nekat, pasti abis kena priwitan si Seragam. Nah, ini dia momen yang paling seru, komentar para tukang ojek yang beragam!

"Tah apolah, nak lewat be susah nian!"

"Iyo. Padahal manusio juga!"

"Cepatlah awas! Pejabat lewat. Gek keno minggir samo dio!"

"Bla... bla... bla...."

Wow! Aku suka! Menu sarapan pagi yang menyenangkan bukan? Santapan hangat rakyat biasa!

Abisnya, aku heran juga. Sama-sama manusia, seperti yang bapak itu bilang tadi, tapi kok malah lebay amat ya memperlakukan dia? Oke lah, i now that, dia bukan orang sembrangan. Dia yang memimpin negeri ini! Tapiiiii, gimana yah ngomongnya, terlalu sulit untuk mengucapkannya (huueekkk!)

Kalo boleh jujur lagi, abisnya aku eneg banget sih! Emangnya yang mau pakai tuh jalan cuma dia doang? Emangnya –lagi- tuh jalan dia yang buat? Yang lain kan juga ada kepentingan masing-masing. Mbok yo jangan egois sendiri toh! Nah, bayangkan aja kalo tadi itu ternyata ada seseorang yang lagi gawat, terus kena macet ga bisa buru-buru ke rumah sakit karna mobil si Bapak mau lewat, yang ada keburu amsiong duluan deh tuh orang! Bukan kesejahteraan yang didapat, tapi malah menambah derita baru bagi rakyat.

Mungkin ini catatan yang sedikit kejam untuk diungkapkan. Tapi sebenarnya, ini cuma sebuah cerita kecil dari rakyat biasa. Yah, curhat dikitlah gitu. Biar yang di atas pada tau. JANGAN cuma enaknya aja dong yang diterima. Kalo jalan jangan hanya mendongak ke atas aja. Tapi tundukkan pula kepalamu. Liat penderitaan di bawah sana. Semua orang ingin makmur. Tapi jangan egois! Jangan hanya memakmurkan dirimu sendiri!

Jangan sebut kami BENGAK!

hari ini, dengan lantangnya, ia berkata, "Guru-guru di sini bengak !" aku yang hanya bisa mendengarkan dari dalam ruang guru, ter...