Friday, March 11, 2011

Pesan sang "pengarang"

Cinta adalah percikan kasih Ilahi di dalam perasaan hati insan kita, Dia akan bergetar dan terhubung sendiri dalam diri dan hati kita masing-masing, Tak perlu dikatakan, dan untuk di katakan, Kamu adalah bagian dari hatiku, Maka aku tidak ingin mencintai orang lain, Karena aku mengerti dirimu, Seperti aku mengerti rasa yang ada didalam hatiku, Semua aku ingin lakukan untuk memilikimu dan menjagamu, Karena kamu adalah bagian dari hidupku, Dan aku ingin kau selalu bersamaku sampai kapan pun, Karena perasaan hati kita telah menyatu dan tak bisa dipisahkan, Jika perpisahan ini yang terjadi, Aku ikhlaskan semuanya, Tapi aku akan sangat bersedih, Karena aku sangat bodoh dan tuli sampai tak mampu mendengar suara hati, Dan aku akan kembali, Sampai aku bisa mendengarnya dengan jelas sekali.

9 Maret 2011 21:34:18 WIB

No human relation gives one possession in another,

Every two souls are absolytely different,

In friendship or in love,

The two sides by side raise hands together to fing what one cannot reach alone

11 Maret 2011 16:41:43 WIB

Sampai saat ini, rasaku bertahan disini, rasa yang takkan hilang oleh waktu, kau tidak disini, aku pun tiada di hatimu, jiwaku ikut menghilang bersamamu..

11 Maret 2011 16:45:35 WIB

Cuma kamu sayangku didunia ini, Cuma kamu cintaku di dunia ini, tanpa kamu hampa kurasakan di dunia ini, tanpa kamu sunyi kurasakan didunia ini, tiada kalimat terlukiskan, betapa sayangku pada dirimu, tiada ibarat sebagai umpama, betapa cintaku kepada dirimu, dapatkah kau rasakan dari dalam hatiku, dapatkah kau rasakan dari tatap mataku… :’(

11 Maret 2011 17;10:28 WIB

Thursday, March 10, 2011

It's Over!!!!

Cerita itu memang tinggal kenangan. Semua sudah resmi selesai. 6 Maret 2011. Hubungan yang sesungguhnya telah berjalan selama kurang lebih 2,5 tahun, pupus di tengah jalan. Karena satu hal saja, ego! Entahlah, tapi rasanya memang sulit menyatukan pemikiran yang berbeda. Belum lagi hal-hal sepele saja, malah bisa jadi masalah besar. Aku sendiri mencoba buat bertahan. Selang beberapa waktu, ternyata pertahanan itu runtuh juga. Aku sudah tak sanggup lagi. Padahal, aku sangat berkeyakinan dia bisa berubah menjadi lebih dewasa. Aku sendiri sebenarnya merupakan sosok yang masih perlu dibimbing. Tapi apa daya, semua hal aku harus aku jalani sendiri. Hanya alam yang bisa memberikan penjelasan mengenai apa yang aku cari.

Aku sangat bergantung sama dia. Padahal sebelumnya juga, aku sudah janji sama diri sendiri supaya tetep jadi anak yang mandiri. Namun sulit ternyata. Tapi sekarang, mau ngga mau, suka ngga suka, ya harus aku jalanin. Jika dulu, dia ada buat aku, dia yang menjadi teman setiaku, namun kini posisi itu digantikan oleh bayangan yang malah lebih setia lagi dari pada dia (sebuah pernyataan bodoh! Udah jelas ngga mungkin bayangan kabur dari kita).

Aku ngga kuat melihat dia bersedih. Malah sempat dulu dia menitikkan air matanya di depanku. Prestasi besar dalam hidupku, karna aku membuat seorang lelaki menangis karena aku! Rasanya justru hatiku lebih tersakiti lagi.

Terlalu banyak kenanganku bersamanya. Bisa dibilang, saking nempelnya, dia rela ngikut aku buat penelitian ke luar daerah. Bareng sama rombongan aku yang lainnya. Padahal, lumayan pegel juga buat nyari objek penelitiannya. Tapi, dia memang terlalu sabar untuk aku.

Ngga ada yang kurang dari dia secara fisik. Justru yang aku tau, banyak yang mengidolakan dirinya. Tapi memang ego kami yang sangat bertolak belakang. Aku adalah anak yang mendapat didikan keras dalam keluarga. Yang secara ngga langsung mempengaruhi sifatku juga yang keras kepala. Sedang dia, sebaliknya. Makanya, sering kali satu diantara kami mesti mengalah karna suatu sebab.

Namun sepertinya, ujian tak pernah lepas buat aku. Hingga "ujian" terakhirnya untukku malah membuat semuanya berantakan. Aku sudah tak pandai lagi menutupi perasaan kecewaku yang telah bertumpuk akan sikapnya. Aku bagaikan bom atom yang meledak dengan kencangnya. Guncangan itu membuat gemuruh yang menggemparkan jagat raya. Jagat hati yang terluka.

Aku serasa menjadi orang yang paling mudah untuk dipermainkan. Dibohongi, atau apalah itu namanya. Yang jelas, aku mungkin terlalu bodoh untuk bisa langsung menyadari tentang sesuatu.

Sekarang, aku masih bergumul dengan kenangan masa lalu. Bukan hal mudah untuk bisa men-delete file kenangan saat masih bersama dengannya. Hingga kini pun, fotonya masih terpajang rapi di dinding kamarku. Aku masih ngga kuat untuk melepaskannya. Aku rindu akan sosoknya. Rindu untuk bercanda bersamanya. Rindu akan segala hal yang biasa kita lakukan berdua.

Dan teruntuk kamu, seseorang yang telah aku sayangi, ini mungkin bukan akhir dari sebuah cerita yang sebenarnya. Jika Tuhan berkehendak lain, bisa saja kita bersama kembali ato malah tak akan pernah sama sekali. Aku mohon untuk jangan membenciku. Aku ingin tetep bisa menjadi keping indah dari hidupmu meskipun yang telah terlupakan.

-Still loving you, my bibie...-

Tuesday, March 8, 2011

5 Menara _impian_


Sumpe deh! Aku suka banget sama nih buku. Inspiratif bener! Awalnya, aku cuma bisa dengerin oarng-orang komen soal nih buku. Penasaran akhirnya bisa baca langsung deh (maklum, nyari pinjeman dulu. hehehe :)) Hampir sama dengan tetraloginya Andrea Hirata, isinya mengupas soal pendidikan. Tapi bedanya, yang ini lebih agamis. Selain itu, kata-kata motivasinya bejibun, Jok! Ngga salah orang-orang pada heboh!

Novel 5 Menara karya A. Fuadi ini kental juga sama budaya yang ada di Indonesia. Berhubung yang nulis masih urang awak juo, lah rancak sin sado alahe. Uhui... (keluar deh minangnya)

Oke lah. Kayaknya perlu juga aku membuat sedikit ringkasan ceritanya. Jadi, kalo aku lupa, minimal kalo baca ringkasannya, bisa nyambung langsung deh.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merataulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

jika di dalam hutan.

-Imam Syafii-

Semua bermula saat Alif hendak mendapatkan pesan dari seseorang yang bernama Batutah. Padahal, ia sama sekali tak kenal seorang pun dengan nama tersebut. Namun, saat Batutah memperkenalkan dirinya sebagai Menara Keempat, Alif seolah ditarik pada kenangannya pada masa lalu. Sebuah masa yang sangat sulit untuk dilupakan.

***

Semua bermula karena keinginan yang ditentang. Terlalu kasar jika dinyatakan demikian, namun ada baiknya diganti saja dengan sebuah keinginan yang tidak direstui. Meskipun berhasil keluar sebagai peraih nilai terbaik sek-Kabupaten Agam, namun cita-citanya untuk melanjutkan sekolah ke SMA tak mendapat respon yang baik dari amaknya. Aamak Alif menginginkan agar dirinya bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbasis agama. Karena memang begitulah impian amak. Sejak ia masih di dalam kandungan, amak telah mengucap janji akan menyekolahkan anak lelakinya ke sekolah agama. Agar bisa menjadi seseorang yang baik dalam agamanya. Apalagi keluarga amak cukup kuat dengan agama.

Karena cita-citanya tak direstui untuk masuk ke SMA negeri seperti yang ia dan Randai, sahabatnya sedari kecil, Alif melakukan aksi ngambek. Namun, pikirannya sesaat berubah ketika manakala ia membaca sepucuk surat dari Pak Etek Gindo. Di surat tersebut, Pak Etek Gindo mengatakan bahwa ia punya seorang kenalan yang merupakan alumnus dari sebuah Pondok Madani yang ada di Jawa Timur. Dikatakannya pula, bahwa disana, para santri diajarkan bahasa Arab dan Inggris hingga fasih. Mereka tinggal di asrama dan diajarkan pula kedisiplinan. Pak Etek Gindo mencoba mencarikan jalan keluar atas permasalahan yang tengah dihadapinya untuk melanjutkan pendidikan. Pada akhirnya, Alif menemukan sebuah jawaban yang sesungguhnya masih setengah hati dengan keputusan yang ia ambil. Alif mau melanjutkan ke sekolah agama, ia mau masuk ke pondok. Tai bukan pondok yang ada di Bukittinggi atau yang ada di Padang, tapi pondok yang telah diceritakan Pak Etek Gindo di suratnya.

Setelah perbincangan yang cukup alot, akhirnya amak dan ayah mengizinkan Alif untuk melanjutkan sekolahnya ke Pondok Madani (PM) yang ada di Jawa Timur. Perjalanan untuk memulai kehidupan baru dilaksanakan. Selama kurang lebih tiga hari, Alif dan ayahnya melakukan perjalanan mulai dari Bayur, kota kelahirannya hingga tiba di Jawa Timur. Selama perjalanan, Alif masih dilanda rasa bimbang. Antara keyakinannya untuj melanjutkan sekolah yang jauh berada di tanah Jawa sana ato kembali lagi ke kampung halamannya. Ia masih setengah hati. Apalagi ia dengar, Randai berhasil masuk ke SMA yang sama-sama mereka impikan. Namun waktu tak dapat di putar mundur. Akhirnya, Alif pun memantapkan niatnya untuk menuntut ilmu di PM.

PM memiliki sistem pendidikan 24 jam. Aturannya pun cukup ketat. Dalam pergaulan percakapan sehari-hari, santri dilarang menggunakan bahasa Indonesia, melainkan dengan berbahasa Arab atau berbahasa Inggris. Di PM, siswa baru disambut dengan kehangatan. Tes masuk yang Alif lakukan, ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Ia berhasil tercatat sebagai salah satu dari ratusan siswa lain yang lulus sebagai siswa baru di PM. Dan inilah babak baru kehidupan Alif yang jauh dari orang tua, serta bagaimana ia bisa meneguhkan niat agar bisa berhasil menjalankan pendidikan yang sedari awal hanya setengah hati itu.

Di PM, Alif banyak mendapatkan teman dari penjuru negeri yang ada di Indonesia. Namun hanya ada beberapa saja yang akrab dengannya, yaitu Atang, dari Bandung, Baso dari Sulawesi, Raja dari Sumut, Said dan Dulmajjid dari Surabaya. Dan mereka pun pada akhirnya menAmakan diri sebagai Sahibul Menara karena suka berkumpul di sebuah ruang yang ada di bawah menara masjid yang ada dalam kawasan PM.

Banyak kenangan yang tak terlupakan saat Alif dan kawan-kawan belajar disana. Belum lagi mereka pernah sama-sama menerima hukuman karena terlambat ke masjid, dan hal-hal lainnya. Semangat kesatuan dan persaudaraan sangat lekat diantara para Sahibul Menara. Hingga sebuah keputusan yang sangat sulit diambil oleh Baso. Baso memilih untuk pulang kembali ke kampungnya karena neneknya sakit. Sebab, hanya neneknya seorang itu keluarga yang ia miliki. Ayah dan ibunya telah lama pergi. Padahal, mereka telang menginjak tahun terakhir. Baso pula yang sangat memberikan pengaruh yang cukup besar dalam meningkatkan semangat Alif. Baso sangat pintar. Dan ia rela membantu teman-temannya dalam belajar. Kahilangan Baso, bagaikan kehilangan gigi dalam geraham yang cukup mempengaruhi untuk makan.

Perjuangan selama enam tahun terbaya sudah. alif lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Niatan awalnya untuk ikut menyusul Baso keluarga dari PM guna mengikuti ujian penyetaraan agar bisa masuk universitas, cukup membuat amaknya sedih. Padahal, amak dan ayahnya telah memikirkan sebuah rencana untuknya. Setelah dibujuk dan diberi pengertian, Alif pun menurut untuk menyelesaikan pendidikannya di PM. Meskipun sesungguhnya ia iri luar biasa karna Randai telah berhasil terdaftar menjadi mahasiswa ITB. Kampus idaman Alif dan Randai sejak kecil.

Tapi Tuhan punya cerita lain dalam perjalanan hidupnya. Hingga kini, ia menjadi orang yang berhasil. Bahkan lebih dari apa yang ia impikan.

Gila, cerita ini sebenarnya hampir mirip dengan apa yang terjadi sama aku. Kalo Alif telah merancang cita-cita jikalau lulus dari MTs, ia ingin masuk SMA dan lanjut lagi kuliah aga bisa seperti Habibie, idolanya. Namun, rencananya berantakan karena amaknya tak menyetujui. Sedang aku, aku juga pengen masuk SMA favorit yang aku idamkan sejak lulus dari SD. Tapi apa mau dikata, sebab papa kini hanya tinggal sendiri dalam mengasuh aku dan adek, papa pun terbujuk untuk mengikuti saran maktuo (kakak kandung perempuan papa) supaya aku ikutan tes sekolah kesehatan. Padahal, mana pernah hal itu mampir dalam benakku. Pas pengumuman hasil tes, ternyata aku lulus. Dan ngga taunya, aku juga diterima di SMA yang jadi incaranku sejak lama. Namun, aku harus mengalah. Maktuo bersikeras agar aku sekolah di sekolah kesehatan itu. Jadilah aku luntang lantung dengan segala pelajaran yang lumayan jauh berbeda dengan apa yang sahabatku lainnya pelajari.

Kalo Alif sempat berniat buat keluar dari PM, aku juga sempat berniat seperti itu. aku pengen keluar dari sekolah itu. Pas aku utarain hal ini dengan papa, papa setuju aja. Ngga ada banyak sanggahan. Tapi pada akhirnya, papa menyuruh aku untuk berfikir kembali. Soalnya, aku udah kepalang tanggung. Bentar lagi mau lulusan. Terus, dipikir-pikir lagi, pelajaran yang diajarkan antara SMA dan sekolahku itu, jauh beda banget! Tar yang ada aku malah bisa ngga lulus dari SMA biasa. Alhasil, aku membatalkan niat tersebut. Tapi ujung-ujungnya, karena dari awal emang udah ngga niat, aku malah seolah tak terlalu peduli dengan ilmu yang mereka berikan. Targetku hanya satu, cepat lulus! Titik! Dan kembali ke duniaku yang sebenarnya. Selama sekolah, aku juga ngga punya banyak waktu untuk bermain seperti Alif. Meskipun bukan tinggal di asrama. Pelajaran yang ada terlalu berat. Sedangkan aku cuma punya kemampuan yang standar. Rasanay menyiksa!

Tapi untungnya, semua telah berlalu. Tak pula kau sesali sepenuhnya. Justru dari apa yang aku jalani, aku punya cerita seru yang beda dari yang lain. Sekarang, aku bisa kembali melanjutkan pendidikanku. Meskipun target utama pengen masuk Psikologi, tapi ngga apalah kalo ujung-ujungnya masuk FKIP. Tapi jangan salah, saat ini FKIP jadi idola banyak orang! Karna gaji guru zaman sekarang gede bo'! Makanya pada banyak yang berbondong-bondong mendaftar.

Tapi, aku jadi sanagt termotivasi dengan segala isinya. Mulai dari persahabatan yang Alif jalani, sampai dengan bagaimana gigihnya ia untuk tetap bisa menggapai cita-citanya, bahkan lebih!

Perjalanan yang Alif lakukan agaknya telah lebih dahulu dari pada aku. Apa yang terjadi padaku sepertinya belum seberapa untuknya. Tapi makasih banget Uda Alif. Semoga kobaran semangat yang ada dalam dirimu bisa ikut menularkan semanagt padaku. Amin...

"Man jadda wajada"

Saturday, March 5, 2011

Plis, jangan katakan itu!


Menikah. Sebuah kata ajaib yang justru kini malah aku takuti. Entahlah, tapi yang jelas, semuanya menjadi tabu hanya karena aku mendengar kata itu. Seperti hari ini. Aku seolah dibayangi dengan sebuah ketakutan yang tanpa sebab.

Sesungguhnya, dulu aku sempat berpikiran ingin menikah dalam usia muda. Mungkin karena terpancing oleh temen-temenku yang banyak udah pada nikah. Lulus sekolah, janur kuning telah siap nangkring di depan rumahnya. Bisa dibilang, seusai sekolah, jalan hidup mereka telah jelas. Pastinya, karena mereka kini memiliki tanggung jawab baru dalam hidup. Terutama tanggung jawab kepada suami dan rumah tangganya itu. sedang aku, masih ngga tau apa yang bakalan dilakukan.

Tapi itu dulu. Nyatanya sekarang aku malah asyik dengan duniaku. Dengan segala aktivitas kuliah dan sebagainya. Dengan tanggung jawab terhadap diriku sendiri.

Sebenarnya, aku sendiri sudah beberapa kali diminta untuk menjadi istri. Pertama, saat aku masih sekolah. Waktu itu, aku sudah kelas tiga SMA. Tak lama lagi akan lulus-lulusan. Entah ada angin apa, tiba-tiba ada seseorang yang menyatakan diri siap ingin meminang aku. Deerrr!!!! Rasanya, kayak petir di siang bolong. Masih pake seragam sekolah, eh malah ada orang yang mencoba melamar?! Meskipun dia sempat mencoba untuk meyakinkan aku bahwa dia akan memberikan kelonggaran untuk aku agar bisa terus melanjutkan pendidikan seperti yang aku impikan. Tapi maaf, aku terlalu berkeras pula ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus diribetin dengan urusan rumah tangga. Aji gile, masa iya, selagi asyik ngerjain tugas kuliah, masih harus dibebani sama kerjaan rumahlah, ngurusin suamilah, oh no…!!!!

Oke, lamaran pertama berhasil dengan mulus aku tolak. Selanjutnya, aku balik ke kota kelahiranku. Secara, pas SMA itu, aku “ngekos” di Jakarta. Karna ngga lulus ujian SNMPTN waktu itu, alhasil aku nganggur dulu deh setahun. Ngga menjadi terlalu masalah, karna aku bisa menikmati hari-hari dengan indah. Indah karna ngga ada kerjaan. Lagi asyiknya menikmati keindahan hari tanpa kerjaan itu, tiba-tiba malah ada telpon masuk dari kakak kelasku dulu pas SMA. Rasanya, gledek ngga diundang dating lagi. Lewat telpon, tuh orang terang-terangan pengen banget ke kota kelahiranku buat ketemu orang tuaku trus bermaksud buat melamarku. Pooeeng..! gila aja nih orang. Pake acara maksa lagi! Emang situ cakep apa maksa-maksa aku segala?! Rasanya bener-bener edan! Kok pada enteng amat sih ngomongin soal nikah? Emangnya udah pada punya tabungan yang cukup apa buat melangsungkan ritual yang skral itu? bukan Cuma sekedar tabungan yang ada di bank doang, tapi gimana juga dengan “tabungan hati” kalian? Ya Allah, aku syok!

Lucu aja jadinya kalo sekarang aku mendengar ada teman yang mau menikah. Secara umur, emang usiaku termasuk yang udah matenglah buat melaksanakan hal itu. usia emang boleh dibilang dewasa, tapi dari sisi psikologisnya, belum tentu. Masa sih, ada yang mau menikah tapi tidurnya aja masih dikeloni sama mama. What? Apa jadinya nanti kalo emang bener udah menikah. Apa mamanya mau ikutan dibawa-bawa segala Cuma buat ngelonin dia tidur? Tidurnya jadi bertiga dong?!

Melihat teman-teman yang udah pada menikah, aku jadi geli sendiri. Apalagi bagi mereka yang tengah berbadan dua. Kok rasanya aneh aja gitu liatnya. Malahan sampe ada yang jahil bilang gini, “Eh, anaknya si itu kalo udah lahir langsung S2, secara, 9 bulan dia kan udah S1 duluan. Hehehe….” Gubrak!! Malah pada mencela tuh mereka.

Hemmm, ngga mudah untuk membina sebuah rumah tangga. Apalagi bagi dua insan yang punya ego tolak belakang. Yang satu lembutnya minta ampu, eh yang lainnya malah tegas ngga ketolongan. Yang ada, malah kayak suasana di kamp militer nantinya. Yang keras memperbudak yang lemah. Kerjanya Cuma bisa bentak, sama bentak sini.

Aaaahhh, ngga tau deh! Yang jelas, aku ngga mau menikah dulu dalam waktu dekat ini. Selesaikan dulu kuliah. Abis pasang toga, terus melamar kerja, bukan menunggu buat dilamar. Enak aja, aku kan mau menikmati masa-masa indah dulu dong! Masa abis selesai disibukkin sama urusan kuliah, mau lanjut disusahin sama urusan rumah tangga? Jenuh amat sih kayaknya?!

Target mulai dipasang! Setidaknya, paling lama aku lulus 2 tahun lagi. Itu aja udah lama amat kayaknya. Secepat-cepatnya, satu tahun yang akan datang. Abis itu, aku mau nyari kerja. Aku pengen menikmati hasil kerja kerasku sendiri. Yah, paling banter dibagi sama papa ato adekku, bukan suami ato buat beli kebutuhan rumah tanggaku. No.. no…!

Kalo dikalkulasikan, setidaknya mungkin 4 ato 5 tahun lagi. Kayaknya sih lama amat, tapi kalo dijalanin sih, itu Cuma sebentar cuy! Yah, ini Cuma sebuah target aja. Kalo misalnya lebih dari waktu yang ditentukan, berarti jodohku belum sampai. Tapi kalo sebaliknya gimana? Tetep ke komitmen awal dalam hidupku, aku harus bisa pose pake toga dulu! Ngga bisa ditawar-tawar. Lagian, kalo yang namanya jodoh, ngga lari kemana juga toh?

Sekarang, waktunya buat ngebahagiain diri sendiri dulu. Kalo rasanya udah bisa membahagiakan diri, coba bahagiakan orang yang ada disekitarmu, seperti orang tua ato sodaramu ato juga sahabat-sahabatmu. Nah, kalo mereka udah bisa ikut merasakan kebahagiaan yang kamu hadirkan, baru deh kamu berpikir untuk berumah tangga. Ingat, hidup dalam ikatan pernikahan itu ngga gampang loh! Apalagi zaman sekarang yang makin edan. Banyak banget tantangannya. Jadi, kalo niatnya masih setengah-setengah, mending ngga usah aja deh…!!!

Jangan sebut kami BENGAK!

hari ini, dengan lantangnya, ia berkata, "Guru-guru di sini bengak !" aku yang hanya bisa mendengarkan dari dalam ruang guru, ter...