Tuesday, March 8, 2011

5 Menara _impian_


Sumpe deh! Aku suka banget sama nih buku. Inspiratif bener! Awalnya, aku cuma bisa dengerin oarng-orang komen soal nih buku. Penasaran akhirnya bisa baca langsung deh (maklum, nyari pinjeman dulu. hehehe :)) Hampir sama dengan tetraloginya Andrea Hirata, isinya mengupas soal pendidikan. Tapi bedanya, yang ini lebih agamis. Selain itu, kata-kata motivasinya bejibun, Jok! Ngga salah orang-orang pada heboh!

Novel 5 Menara karya A. Fuadi ini kental juga sama budaya yang ada di Indonesia. Berhubung yang nulis masih urang awak juo, lah rancak sin sado alahe. Uhui... (keluar deh minangnya)

Oke lah. Kayaknya perlu juga aku membuat sedikit ringkasan ceritanya. Jadi, kalo aku lupa, minimal kalo baca ringkasannya, bisa nyambung langsung deh.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merataulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

jika di dalam hutan.

-Imam Syafii-

Semua bermula saat Alif hendak mendapatkan pesan dari seseorang yang bernama Batutah. Padahal, ia sama sekali tak kenal seorang pun dengan nama tersebut. Namun, saat Batutah memperkenalkan dirinya sebagai Menara Keempat, Alif seolah ditarik pada kenangannya pada masa lalu. Sebuah masa yang sangat sulit untuk dilupakan.

***

Semua bermula karena keinginan yang ditentang. Terlalu kasar jika dinyatakan demikian, namun ada baiknya diganti saja dengan sebuah keinginan yang tidak direstui. Meskipun berhasil keluar sebagai peraih nilai terbaik sek-Kabupaten Agam, namun cita-citanya untuk melanjutkan sekolah ke SMA tak mendapat respon yang baik dari amaknya. Aamak Alif menginginkan agar dirinya bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbasis agama. Karena memang begitulah impian amak. Sejak ia masih di dalam kandungan, amak telah mengucap janji akan menyekolahkan anak lelakinya ke sekolah agama. Agar bisa menjadi seseorang yang baik dalam agamanya. Apalagi keluarga amak cukup kuat dengan agama.

Karena cita-citanya tak direstui untuk masuk ke SMA negeri seperti yang ia dan Randai, sahabatnya sedari kecil, Alif melakukan aksi ngambek. Namun, pikirannya sesaat berubah ketika manakala ia membaca sepucuk surat dari Pak Etek Gindo. Di surat tersebut, Pak Etek Gindo mengatakan bahwa ia punya seorang kenalan yang merupakan alumnus dari sebuah Pondok Madani yang ada di Jawa Timur. Dikatakannya pula, bahwa disana, para santri diajarkan bahasa Arab dan Inggris hingga fasih. Mereka tinggal di asrama dan diajarkan pula kedisiplinan. Pak Etek Gindo mencoba mencarikan jalan keluar atas permasalahan yang tengah dihadapinya untuk melanjutkan pendidikan. Pada akhirnya, Alif menemukan sebuah jawaban yang sesungguhnya masih setengah hati dengan keputusan yang ia ambil. Alif mau melanjutkan ke sekolah agama, ia mau masuk ke pondok. Tai bukan pondok yang ada di Bukittinggi atau yang ada di Padang, tapi pondok yang telah diceritakan Pak Etek Gindo di suratnya.

Setelah perbincangan yang cukup alot, akhirnya amak dan ayah mengizinkan Alif untuk melanjutkan sekolahnya ke Pondok Madani (PM) yang ada di Jawa Timur. Perjalanan untuk memulai kehidupan baru dilaksanakan. Selama kurang lebih tiga hari, Alif dan ayahnya melakukan perjalanan mulai dari Bayur, kota kelahirannya hingga tiba di Jawa Timur. Selama perjalanan, Alif masih dilanda rasa bimbang. Antara keyakinannya untuj melanjutkan sekolah yang jauh berada di tanah Jawa sana ato kembali lagi ke kampung halamannya. Ia masih setengah hati. Apalagi ia dengar, Randai berhasil masuk ke SMA yang sama-sama mereka impikan. Namun waktu tak dapat di putar mundur. Akhirnya, Alif pun memantapkan niatnya untuk menuntut ilmu di PM.

PM memiliki sistem pendidikan 24 jam. Aturannya pun cukup ketat. Dalam pergaulan percakapan sehari-hari, santri dilarang menggunakan bahasa Indonesia, melainkan dengan berbahasa Arab atau berbahasa Inggris. Di PM, siswa baru disambut dengan kehangatan. Tes masuk yang Alif lakukan, ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Ia berhasil tercatat sebagai salah satu dari ratusan siswa lain yang lulus sebagai siswa baru di PM. Dan inilah babak baru kehidupan Alif yang jauh dari orang tua, serta bagaimana ia bisa meneguhkan niat agar bisa berhasil menjalankan pendidikan yang sedari awal hanya setengah hati itu.

Di PM, Alif banyak mendapatkan teman dari penjuru negeri yang ada di Indonesia. Namun hanya ada beberapa saja yang akrab dengannya, yaitu Atang, dari Bandung, Baso dari Sulawesi, Raja dari Sumut, Said dan Dulmajjid dari Surabaya. Dan mereka pun pada akhirnya menAmakan diri sebagai Sahibul Menara karena suka berkumpul di sebuah ruang yang ada di bawah menara masjid yang ada dalam kawasan PM.

Banyak kenangan yang tak terlupakan saat Alif dan kawan-kawan belajar disana. Belum lagi mereka pernah sama-sama menerima hukuman karena terlambat ke masjid, dan hal-hal lainnya. Semangat kesatuan dan persaudaraan sangat lekat diantara para Sahibul Menara. Hingga sebuah keputusan yang sangat sulit diambil oleh Baso. Baso memilih untuk pulang kembali ke kampungnya karena neneknya sakit. Sebab, hanya neneknya seorang itu keluarga yang ia miliki. Ayah dan ibunya telah lama pergi. Padahal, mereka telang menginjak tahun terakhir. Baso pula yang sangat memberikan pengaruh yang cukup besar dalam meningkatkan semangat Alif. Baso sangat pintar. Dan ia rela membantu teman-temannya dalam belajar. Kahilangan Baso, bagaikan kehilangan gigi dalam geraham yang cukup mempengaruhi untuk makan.

Perjuangan selama enam tahun terbaya sudah. alif lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Niatan awalnya untuk ikut menyusul Baso keluarga dari PM guna mengikuti ujian penyetaraan agar bisa masuk universitas, cukup membuat amaknya sedih. Padahal, amak dan ayahnya telah memikirkan sebuah rencana untuknya. Setelah dibujuk dan diberi pengertian, Alif pun menurut untuk menyelesaikan pendidikannya di PM. Meskipun sesungguhnya ia iri luar biasa karna Randai telah berhasil terdaftar menjadi mahasiswa ITB. Kampus idaman Alif dan Randai sejak kecil.

Tapi Tuhan punya cerita lain dalam perjalanan hidupnya. Hingga kini, ia menjadi orang yang berhasil. Bahkan lebih dari apa yang ia impikan.

Gila, cerita ini sebenarnya hampir mirip dengan apa yang terjadi sama aku. Kalo Alif telah merancang cita-cita jikalau lulus dari MTs, ia ingin masuk SMA dan lanjut lagi kuliah aga bisa seperti Habibie, idolanya. Namun, rencananya berantakan karena amaknya tak menyetujui. Sedang aku, aku juga pengen masuk SMA favorit yang aku idamkan sejak lulus dari SD. Tapi apa mau dikata, sebab papa kini hanya tinggal sendiri dalam mengasuh aku dan adek, papa pun terbujuk untuk mengikuti saran maktuo (kakak kandung perempuan papa) supaya aku ikutan tes sekolah kesehatan. Padahal, mana pernah hal itu mampir dalam benakku. Pas pengumuman hasil tes, ternyata aku lulus. Dan ngga taunya, aku juga diterima di SMA yang jadi incaranku sejak lama. Namun, aku harus mengalah. Maktuo bersikeras agar aku sekolah di sekolah kesehatan itu. Jadilah aku luntang lantung dengan segala pelajaran yang lumayan jauh berbeda dengan apa yang sahabatku lainnya pelajari.

Kalo Alif sempat berniat buat keluar dari PM, aku juga sempat berniat seperti itu. aku pengen keluar dari sekolah itu. Pas aku utarain hal ini dengan papa, papa setuju aja. Ngga ada banyak sanggahan. Tapi pada akhirnya, papa menyuruh aku untuk berfikir kembali. Soalnya, aku udah kepalang tanggung. Bentar lagi mau lulusan. Terus, dipikir-pikir lagi, pelajaran yang diajarkan antara SMA dan sekolahku itu, jauh beda banget! Tar yang ada aku malah bisa ngga lulus dari SMA biasa. Alhasil, aku membatalkan niat tersebut. Tapi ujung-ujungnya, karena dari awal emang udah ngga niat, aku malah seolah tak terlalu peduli dengan ilmu yang mereka berikan. Targetku hanya satu, cepat lulus! Titik! Dan kembali ke duniaku yang sebenarnya. Selama sekolah, aku juga ngga punya banyak waktu untuk bermain seperti Alif. Meskipun bukan tinggal di asrama. Pelajaran yang ada terlalu berat. Sedangkan aku cuma punya kemampuan yang standar. Rasanay menyiksa!

Tapi untungnya, semua telah berlalu. Tak pula kau sesali sepenuhnya. Justru dari apa yang aku jalani, aku punya cerita seru yang beda dari yang lain. Sekarang, aku bisa kembali melanjutkan pendidikanku. Meskipun target utama pengen masuk Psikologi, tapi ngga apalah kalo ujung-ujungnya masuk FKIP. Tapi jangan salah, saat ini FKIP jadi idola banyak orang! Karna gaji guru zaman sekarang gede bo'! Makanya pada banyak yang berbondong-bondong mendaftar.

Tapi, aku jadi sanagt termotivasi dengan segala isinya. Mulai dari persahabatan yang Alif jalani, sampai dengan bagaimana gigihnya ia untuk tetap bisa menggapai cita-citanya, bahkan lebih!

Perjalanan yang Alif lakukan agaknya telah lebih dahulu dari pada aku. Apa yang terjadi padaku sepertinya belum seberapa untuknya. Tapi makasih banget Uda Alif. Semoga kobaran semangat yang ada dalam dirimu bisa ikut menularkan semanagt padaku. Amin...

"Man jadda wajada"

Saturday, March 5, 2011

Plis, jangan katakan itu!


Menikah. Sebuah kata ajaib yang justru kini malah aku takuti. Entahlah, tapi yang jelas, semuanya menjadi tabu hanya karena aku mendengar kata itu. Seperti hari ini. Aku seolah dibayangi dengan sebuah ketakutan yang tanpa sebab.

Sesungguhnya, dulu aku sempat berpikiran ingin menikah dalam usia muda. Mungkin karena terpancing oleh temen-temenku yang banyak udah pada nikah. Lulus sekolah, janur kuning telah siap nangkring di depan rumahnya. Bisa dibilang, seusai sekolah, jalan hidup mereka telah jelas. Pastinya, karena mereka kini memiliki tanggung jawab baru dalam hidup. Terutama tanggung jawab kepada suami dan rumah tangganya itu. sedang aku, masih ngga tau apa yang bakalan dilakukan.

Tapi itu dulu. Nyatanya sekarang aku malah asyik dengan duniaku. Dengan segala aktivitas kuliah dan sebagainya. Dengan tanggung jawab terhadap diriku sendiri.

Sebenarnya, aku sendiri sudah beberapa kali diminta untuk menjadi istri. Pertama, saat aku masih sekolah. Waktu itu, aku sudah kelas tiga SMA. Tak lama lagi akan lulus-lulusan. Entah ada angin apa, tiba-tiba ada seseorang yang menyatakan diri siap ingin meminang aku. Deerrr!!!! Rasanya, kayak petir di siang bolong. Masih pake seragam sekolah, eh malah ada orang yang mencoba melamar?! Meskipun dia sempat mencoba untuk meyakinkan aku bahwa dia akan memberikan kelonggaran untuk aku agar bisa terus melanjutkan pendidikan seperti yang aku impikan. Tapi maaf, aku terlalu berkeras pula ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus diribetin dengan urusan rumah tangga. Aji gile, masa iya, selagi asyik ngerjain tugas kuliah, masih harus dibebani sama kerjaan rumahlah, ngurusin suamilah, oh no…!!!!

Oke, lamaran pertama berhasil dengan mulus aku tolak. Selanjutnya, aku balik ke kota kelahiranku. Secara, pas SMA itu, aku “ngekos” di Jakarta. Karna ngga lulus ujian SNMPTN waktu itu, alhasil aku nganggur dulu deh setahun. Ngga menjadi terlalu masalah, karna aku bisa menikmati hari-hari dengan indah. Indah karna ngga ada kerjaan. Lagi asyiknya menikmati keindahan hari tanpa kerjaan itu, tiba-tiba malah ada telpon masuk dari kakak kelasku dulu pas SMA. Rasanya, gledek ngga diundang dating lagi. Lewat telpon, tuh orang terang-terangan pengen banget ke kota kelahiranku buat ketemu orang tuaku trus bermaksud buat melamarku. Pooeeng..! gila aja nih orang. Pake acara maksa lagi! Emang situ cakep apa maksa-maksa aku segala?! Rasanya bener-bener edan! Kok pada enteng amat sih ngomongin soal nikah? Emangnya udah pada punya tabungan yang cukup apa buat melangsungkan ritual yang skral itu? bukan Cuma sekedar tabungan yang ada di bank doang, tapi gimana juga dengan “tabungan hati” kalian? Ya Allah, aku syok!

Lucu aja jadinya kalo sekarang aku mendengar ada teman yang mau menikah. Secara umur, emang usiaku termasuk yang udah matenglah buat melaksanakan hal itu. usia emang boleh dibilang dewasa, tapi dari sisi psikologisnya, belum tentu. Masa sih, ada yang mau menikah tapi tidurnya aja masih dikeloni sama mama. What? Apa jadinya nanti kalo emang bener udah menikah. Apa mamanya mau ikutan dibawa-bawa segala Cuma buat ngelonin dia tidur? Tidurnya jadi bertiga dong?!

Melihat teman-teman yang udah pada menikah, aku jadi geli sendiri. Apalagi bagi mereka yang tengah berbadan dua. Kok rasanya aneh aja gitu liatnya. Malahan sampe ada yang jahil bilang gini, “Eh, anaknya si itu kalo udah lahir langsung S2, secara, 9 bulan dia kan udah S1 duluan. Hehehe….” Gubrak!! Malah pada mencela tuh mereka.

Hemmm, ngga mudah untuk membina sebuah rumah tangga. Apalagi bagi dua insan yang punya ego tolak belakang. Yang satu lembutnya minta ampu, eh yang lainnya malah tegas ngga ketolongan. Yang ada, malah kayak suasana di kamp militer nantinya. Yang keras memperbudak yang lemah. Kerjanya Cuma bisa bentak, sama bentak sini.

Aaaahhh, ngga tau deh! Yang jelas, aku ngga mau menikah dulu dalam waktu dekat ini. Selesaikan dulu kuliah. Abis pasang toga, terus melamar kerja, bukan menunggu buat dilamar. Enak aja, aku kan mau menikmati masa-masa indah dulu dong! Masa abis selesai disibukkin sama urusan kuliah, mau lanjut disusahin sama urusan rumah tangga? Jenuh amat sih kayaknya?!

Target mulai dipasang! Setidaknya, paling lama aku lulus 2 tahun lagi. Itu aja udah lama amat kayaknya. Secepat-cepatnya, satu tahun yang akan datang. Abis itu, aku mau nyari kerja. Aku pengen menikmati hasil kerja kerasku sendiri. Yah, paling banter dibagi sama papa ato adekku, bukan suami ato buat beli kebutuhan rumah tanggaku. No.. no…!

Kalo dikalkulasikan, setidaknya mungkin 4 ato 5 tahun lagi. Kayaknya sih lama amat, tapi kalo dijalanin sih, itu Cuma sebentar cuy! Yah, ini Cuma sebuah target aja. Kalo misalnya lebih dari waktu yang ditentukan, berarti jodohku belum sampai. Tapi kalo sebaliknya gimana? Tetep ke komitmen awal dalam hidupku, aku harus bisa pose pake toga dulu! Ngga bisa ditawar-tawar. Lagian, kalo yang namanya jodoh, ngga lari kemana juga toh?

Sekarang, waktunya buat ngebahagiain diri sendiri dulu. Kalo rasanya udah bisa membahagiakan diri, coba bahagiakan orang yang ada disekitarmu, seperti orang tua ato sodaramu ato juga sahabat-sahabatmu. Nah, kalo mereka udah bisa ikut merasakan kebahagiaan yang kamu hadirkan, baru deh kamu berpikir untuk berumah tangga. Ingat, hidup dalam ikatan pernikahan itu ngga gampang loh! Apalagi zaman sekarang yang makin edan. Banyak banget tantangannya. Jadi, kalo niatnya masih setengah-setengah, mending ngga usah aja deh…!!!

Friday, February 25, 2011

Dan Ini Catatanku

Lelah

lewat mata yang merah
dengan tangan menengadah
berharap itu darah
tapi kini berhenti sudah
waktu itu, hari itu
masa kini, saat ini
bulan lalu, selalu begitu
hari depan, tetap begini
sungguh diri telah lelah
menyiksa melihat senyum merekah
walau diri mencoba tabah
namun semua tak pernah berubah

mendalo darat, april 2009


Kembali Pulang

bilang pada alam
aku akan segera pulang
karna aku rindu kicauan burung
pelukan hangat mentari merasuk kalbu

sampaikan pada bulan
tuntun aku menuju pulang
dengan sinar temaram
disela kekuatan yang akan memudar

sampaikan lagi pada alam
siapkan tempat untukku berteduh
dari kegalauan yang telah tertempuh
karna aku sungguh akan pulang

14 november 2009
mendalo darat

Thursday, February 3, 2011

Resensi: Mama Comblang


Hem... Udah lama juga ngga menghadirkan resensi soal buku apa yang udah aku baca. Padahal, emang belum ada aja tuh yang dibaca... Hehehe... Ngapain juga kali mel nulis resensi buku kalo ngga baca dulu sebelumnya? Iya kan?
Key, daripada dibuat bingung-bingung, kali ini ada semacam novel lucu yang kocak abis dah! Buat yang pada lagi suntuk, kayaknya wajib hukumnya buat cari tau apa sih yang ada dalam nih buku sampe dibilang kocak gitu. Klao belum buktiin sendiri, ngga bakalan tau deh gimana ceritanya bikin perut kamu itu goncang karena kebanyakan ketawa. Dari judulnya aja, udah menggelitik bikin penasaran. Coba aja pikir, emang ada apa mama-mama yang bertugas menjadi mak comblang anaknya? Kalo kata kasarnya nih, ngejodohin sih iya, tapi kalo ngecomblangin, bukannya hampir sama aja ngga sih tuh?
What ever, yang jelas nih buku asalnya nemu di bazar murah Gramedia. Berhubung cuma punya uang pas-pasan tapi pengen banget cari buku bacaan baru, pas banget deh situasinya! Percaya ngga kalo nih buku cuma seharga 5 ribu perak aja? Ya pasti pada percayalah! Lah kan tadi udah dibilang kalo nemunya di bazar buku murah!
Yah, mukadimahnya kepanjangan! Mending langsung aja yuk simak gimana cerita nih buku yang sebenarnya. Let's check this out!
Bagi Neyna dan Dida, sebenarnya ada banyak cara supaya mereka berdua lepas dari usaha pencomblangan oleh kedua mama mereka. Tapi apa mau dikata, yang ada keduanya cuma bisa nurut aja karena ngga pada mau kehilangan orang tua yang tinggal satu-satunya itu. Padahal nih, mereka udah saling kenal sejak pada baru brojol ke dunia. Masalahnya, mama mereka berdua itu, udah lama sahabatan. Jadi ngga heran kalo pada ngotot ingin menyatukan dua keluarga supaya bisa lebih erat lagi.
Dida sama Neyna sendiri sebenarnya udah sama-sama punya pasangan. Neyna udah dua tahun menjalin hubungan sama Indra. Kalo Dida sendiri punya pacar yang namanya Shefa yang ngga lain adalah teman satu kantornya sendiri. Saking seriusnya hubungan antara Neyna dan Indra, Indra udah berencana buat ngelamar Neyna dipenghujung tahun. Soalnya, Indra yang bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor, mesti nyelesein proyek yang ada di Salatiga. Neyna dan Dida sendiri udah seperti adek-kakak. Meskipun jarak umur mereka terpaut 9 tahun, tapi mereka asyik-asyik aja tuh! Neyna yang rame dan bekerja sebagai karyawan di butik tante Miranti, emang sosok cewek yang bawel dan apa adanya. Tolak belakang banget sama Dida yang seorang kepala cabang sebuah bank dengan gaya yang cool abis.Belum lagi tubuhnya yang tinggi dan ditunjang dengan kulit putihnya itu, bikin cewek-cewek pada kepincut deh sama tuh orang. Tapi tetep, Neyna kan udah cinta mati itu sama Indra. Jadi, ya dia ngga ngerasa gimana gitu meskipun selalu dijagain sama Dida. Tapi, hubungan yang hanya dianggap sebagai kakak-adik itu, bentar lagi bakalan berubah. Mama-mama mereka berdua, yaitu mama Mira, yang tak lain mama dari Neyna dan mama Lita, orang tuanya Dida, sama-sama berencana ingin menikahkan mereka. Tentunya ini kabar yang bikin mereka lumayan syok! Apalagi bagi Neyna, ia kan udah janji mau nungguin Indra. Lagian waktu Indra bermaksud untuk meminang anak mama Mira, mamanya itu setuju aja. Tapi kenapa semua jadi berubah? Dengan sederet alasan yang diberikan oleh kedua mama, Dida dan Neyna pun ngga bisa memutuskan untuk menolak. Apalagi pas Neyna sempat bersitegang sama mamanya, yang ada malah penyakit jantung mamanya kumat. Terpaksa deh Neynya mengiyakan aja permintaan mamanya itu. Tapi, Dida dan Neyna telah merencanakan sesuatu dengan pernikahan ini. Supaya ngga mengecewakan kedua mama, mereka hanya akan melakoni pernikahan itu sebagai pernikahan bohongan. Dan rencana ini juga diberitahukan kepada pacar masing-masing. Soalnya, Neyna sendiri ogah bener buat pisah sama Indra. Cintanya udah kepentok banget buat cowok yang telah dipacarinya selama dua tahun itu. Acara akad nikah lancar dijalankan. Pas malam pertama, Dida sama Neyna sama-sama kikuk. Ya iyalah, sebelumnya kan mereka emang udah tinggal serumah dengan kedua mama masing-masing. Kalo sebelumnya status diantara mereka itu cuma sekedar kayak kakak-adik, eh malah sekarang jadi suami-istri. Akhirnya, buat menghilangkan ketegangan karena mesti tidur sekamar, Dida dan Neyna pun malah main ular tangga. Sebuah pemainan yang emang udah jadi favorit mereka sejak kecil. Pas tidur pun, mereka emang boleh dibilang satu kamar, tapi bukan berarti satu tempat tidur. Secara bergantian, Neyna dan Dida tidur di atas ranjang dan satunya lagi mesti ngalah tidur di kasur lipat. Begitu seterusnya. Soalnya, dalam perjanjia, mereka akan sama-sama menjaga kesucian masing-masing sampe adegan sandiwara nikah bohongan itu selesai, dan akhirnya bisa kembali ke pangkuan pacar masing-masing. Awal-awalnya sih sukses. Tapi mulai ada kericuhan yang justru datang dari Shefa, ceweknya Dida. Pas lagi jalan-jalan bareng Neyna dan kedua mamanya, Dida mergokin Shefa lagi jalan sama cowok lain. Emang sih Dida ngga nyamperin langusng, tapi dia cukup melihatnya dari jarak jauh aja. Apalagi Dida rada ngga percaya gitu sama sosok cowok yang lengket banget sama Shefa itu. Soalnya, Dida udah sangat mengenal sekali cowok itu. Dida sama sekali ngga ngomong apa-apa soal kejadian yang dilihatnya itu sama Neyna. Malah baginya, itu justru harus dirahasiakan karena nantinya malah bisa memberikan dampak sama Neyna. Soalnya, cowok yang dipergokin Dida saat di mal itu adalah Indra, yang ngga lain pacar Neyna sendiri. Yah, yang namanya orang sudah menikah, kayaknya emang wajar kan kalo mereka itu melakukan hal yang lumrah sebagai sepasang suami istri. Dan emang hal itu terjadi. Dida khilaf ngelakuin itu. Dia merasa bersalah banget sama Neyna. Dida malah meninggalkan Neyna yang meratapi nasibnya karena ngga bisa nepatin janji buat setia terhadap Indra. Alhasil, Dida ngebut dijalan dengan pikirannya yang kacau itu, terus malah mengalami kecelakaan hebat. Syukurnya sih, Dida ngga mengalami luka parah. Tapi, mama Lita, mamanya Dida, malah nyalahin Neyna atas terjadinya kecelakaan itu. Mama Lita pun memarahi Neyna dengan kata-kata kasar. Yang justru berujung pada sikap Neyna yang akhirnya ngga mau lgi ketemu Dida dan mama Lita. Gara-gara pernikahan yang emang sejak awal itu dijalankan dengna setengah hati dan terpaksa, akhirnya kedua mama menyadari kesalahan mereka akibat terlalu memaksakan kehendak sendiri. Apalagi sebelumnya, Dida dan Neyna juga mengikutsertakan pacar masing-masing dalam sandiwara agar terlihat perselingkuhan yang diharapkan bisaberujung keperceraian. Tanpa perlu melakoni hal itu lagi, kedua mama rela bila anaknya pisah. Tapi, muncul masalah baru nih, soalnya Neyna malah dinyatakan oleh dokter positif hamil! Karena takut anak yang dikandungnya itu ngga punya bapak, Neyna pun menghubungi Indra agar mau menggantikan posisi Dida sebagai ayah dari anaknya kelak. Sayang, Indra justru menolak. Neyna sempet aneh juga sama jawaban yang dilaur dugaan itu, karena yang dia tahu, Indra juga masih mencintainya. Sekuat apa pun Neyna berusaha untuk Indra bisa mengabulkan permintaannya itu, makin kuat pula usaha Indra buat menghilangkan jejak dari Neyna. Karena ternyata, Indra telah menikahi Shefa, dengan alasan Shefa telah hamil anak dari Indra. Dida yang ngga dikasih tau kabar kehamilan Neyna sebelumnya itu, jadi marah besar karena Dida merasa bisa bertanggung jawab atas anak yang dikandung Neyna. Dida sendiri sebenarnya justru ngga mau kehilangan Neyna, karena dia sangat mencintai Neyna. Dan dia bertekad akan menjaga Neyna selalu. Neyna yang akhirnya tau mengapa Indra menjauhinya, udah pasti terpuruk banget atas pengakuan Indra sendiri padanya. Dia udah ngga tau harus ngapain lagi. Neyna bener-bener pasrah. Tapi, berkat kehamilan Neyna itu pula, akhirnya mereka ngga jadi bercerai. Ujung-ujungnya, Dida mengakui sebuah rahasia yang selama ini telah ia pendam. Kalo sebelumnya perjodohan itu sebagai alasan bahwa mama-mama mereka ngga mau anaknya hidup bersama orang lain, padahal sebenarnya, rencana itu adalah permintaan dari Dida sendiri. Dida yang meminta agar mamanya merencanakan supaya mengatakan pada Neyna mereka itu telah dijodohkan dari kecil. Padahal sih ngga sama sekali. Karena mama Lita dan mama Mira emang ngga mau pisah juga, ya udah, keinginan Dida itu dikabulin. Neyna kaget bukan main atas pengakuan Dida itu. Dia ngga nyangka aja kalo Dida bisa berbuat nekad. Pantes aja, Dida ngga protes waktu tau akan dijodohkan pada dirinya. Tapi Neyna sempat ngga abis pikir kenapa kok Dida tega memisahkan dirinya dengan Indra. Lagi-lagi, karena rasa sayang Dida ke Neyna yang udah mentok juga, bukan sama Shefa, yang Neyna tau pacar Dida itu.. Makannya dia berani melakukan itu. Tapi, nasi udah menjadi bubur. Indra juga udah bahagia sama Shefa. Neyna pun ikhlas menjalani kehidupannya bersama dengan Dida dan calon anak yang dikandungnya. Neyna pun menerima Dida sebagai suaminya yang sebenarnya, bukan untuk suami bohongan lagi.

Nah, itu dia sedikit rincian singkat ceritanya. Emang sih, kalo dari versi yang nulis nih resensi, ngga ada kocak-kocaknya. Tapi, sumpah deh! Nih buku lucu abis. Dari ceritanya sendiri, emang rada udah sering kita tau. Tapi tetep enak kok buat dinikmati.
Dari pada bilang melly boong, mending baca sendiri deh nih buku. Kalo ternyata emang beneran lucu, ingat ya, buat kasih melly buku baru dengna judul lain sebagai upeti karena salah sangka kalian sebelumnya! Hehehehe...

Wednesday, January 12, 2011

Cerpen Dadakan

Malaikat Subuh

Oleh: Melly Ai

Langit masih tampak enggan untuk menampakkan sinar mentari. Pancaran hangat itu akan tetap tersimpan hingga beberapa waktu kemudian. Suara jangkrik nan mengalun bersahut-sahutan, menandakan bahwa malam masih merajai hari. Sekiranya, orang-orang masih akan tetap berada diatas pembaringan dengan menikmati bunga tidur yang melambungkan angan hingga kekhayangan.

Namun, ketenangan malam yang tak lama akan menjelang pagi saat itu, sedikit terusik oleh deru motor yang tampaknya sangat tergesa-gesa dikendarai oleh si empunya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun semua itu pasti terlihat dari kegelisahan yang terpancar dari raut wajahnya. Berulang kali ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Namun sayang, kegelisahan seakan enggan untuk beranjak pergi.

Sekiranya, ia telah menemukan jawaban atas kegelisahan itu. Dengan cekatan, ia segera memarkirkan sepeda motornya. Dan tanpa ragu lagi, beranjak ke depan pintu sebuah rumah. Bukanlah rumah yang mewah. Hanya sebuah rumah sederhana berpagarkan susunan deretan kaca piring yang tertata apik setinggi 1 meter. Di depan pintu rumah bercat kuning gading itu, lelaki yang sejak tadi diburu oleh kegelisahan amat sangat berharap belas kasih dari tuan rumah ini. Dengan tempo cepat, ia telah sibuk mengetuk pintu sambil memanggil nama yang punya rumah.

“Bang… Bang Basril….!”

Ketukan pintu dan suara panggilan itu untuk beberapa saat tak ada yang merespon. Kembali ia lakukan hal itu hingga seseorang terdengar menanggapi aksinya.

“Ya… iya.. iya… Sebentar,” suara perempuan separuh baya terdengar dari dalam rumah. Lelaki itu mulai terlihat sedikit tenang. Namun ia masih sibuk menanti kapan pintu rumah itu akan terbuka.

Dari dalam rumah, seorang perempuan dengan dengan daster batiknya, tengah sibuk mencari kunci pintu dilaci lemari pajangannya. Setelah mengaduk-aduk salah satu laci lemari pajang tersebut, akhirnya kunci itu ditemukan juga. Segera ia bergegas membukakan pintu untuk tamu yang cukup membuatnya terkejut di sepertiga malam ini. Ketika pintu telah terbuka, tampaklah seorang pria yang sekiranya berumur 30 tahunan, berjalan mondar-mandir tak tentu arah diteras rumah sambil terus meremas ujung baju kemejanya.

“Ya, ada apa?”

“Mbak, ini aku mbak, Eri. Maaf mbak, bisa tolong bangunkan Bang Basri, Mbak?”

“Eri mana ya?” tanya wanita itu masih setengah sadar.

“Eri transito, Mbak ,” ujar lelaki itu sambil menyebutkan dimana lokasi ia tinggal. Sejenak, kening wanita itu berkerut. Bagaikan secepat kilat, ingatannya langsung tersambungkan.

“Oh… Eri Transito. Iya ada apa, Ri?” tanyanya lagi dengan sedikit senyuman ramah.

“Mbak, apa Bnag Basri bias menolong aku mengantarkan Tuti, Mbak. Ia mau melahirkan, Mbak,” akhirnya lelaki yang sedari tadi bertingkah resah tak karuan itu, mengutarakan juga maksud kedatangannya ke rumah itu.

Tiba-tiba dari dalam rumah, terdengar sebuah suara lelaki lain.

“Siapa itu, Bu?” tanyanya sambil terus berjalan mendekati pintu depan rumah, dimana dari luar ia bisa melihat seorang lelaki yang sedari tadi bercakap-cakap dengan istrinya.

“Ini aku bang, Eri. Bang, apa abang bisa bantu aku mengantarkan istriku ke klinik bersalin yang ada didepan Kuburan Cina? Ia mau melahirkan, Bang,” seru lelaki yang sedari tadi menyebutkan dirinya dengan Eri.

“Iya pak, ini Eri yang tinggal ditransito itu. Istrinya mau melahirkan. Ia minta tolong sama bapak untuk mengantarkan istrinya. Bisa kan, Pak?” timpal istrinya.

Sang suami tak langusng mengiyakan permintaan istrinya. Karena masih dalam kondisi belum seratus persen sadar dari tidurnya, lelaki itu hanya bisa menatap pemuda didepannya dari ujung kaki hingga kepala.

“Oh…! Eri! Iya, aku ingat. Maaf, namanya juga orang baru bangun tidur, belum bisa langsung nyambung,” ujar Basri cengar cengir.

Eri hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman pahit. Bagaimana tidak, karena pikirannya terlanjur kacau bila ia kembali mengingat istrinya yang sedang kepayahan dirumah.

“Jadi, bagaimana, Bang? Bisakan abang bantu aku? Ini kondisi darurat sekali!” pintanya memohon.

“Sudahlah, pak, bantu dia, ya. Sekarang bapak segeralah salin pakaian dulu,” ujar istri Basri sambil berlalu kembali ke dalam rumah.

“Baik, tunggu sebentar ya. Aku ganti baju dulu.’

“Terima kasih, Bang. Aku tunggu di rumah saja ya. Aku tak tenang meninggalkan istriku sendirian.”

Basri mengiyakan apa yang diutarakan oleh Eri. Eri pun tanpa buang waktu langsung menghidupkan mesin motornya dan kembali untuk menemui istrinya di rumah.

***

Basri hanya bisa menunggu di dalam mobilnya. Sedangkan diruang tunggu, Eri tanpak sibuk mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Basri sendiri sebenarnya masih merasa kantuk yang amat berat. Ia sendiri sudah beberapa hari ini begadang demi tugas kantornya. Pekerjaannya benar-benar menumpuk. Beberapa proyek harus segera terselesaikan. Tapi, mana mungkin pula ia meninggalkan Eri sendirian. Meskipun Eri sendirian sempat mengatakan pada Basri bahwa ia tidak apa-apa bila ditinggal. Namun, Basri sendiri tetep kekeuh ingin menemani Eri, meskipun hanya dari dalam mobil. Ia takut kalau-kalau Eri malah membutuhkan bantuannya lagi untk mengantarkan ke rumah sakit jika terjadi sesuatu dalam persalinan istri Eri. Siapa tahu? Tapi, semoga saja tidak. Karena ia sendiri berharap bisa kembali merajut mimpi.

Karena semilir udara yang masuk melewati kaca jendela mobil, Basri justru merasa seolah dibelai mesra oleh pagi. Tanpa sadar, ia justru melanjutkan tidurnya. Hingga akhirnya, sebuah goncangan hebat dirasa oleh tubuhnya.

“Bangun.. bangun, Bang.”

Basri tak langung membuka mata. Ia hanya sedikit menggeliat dan malah membetulkan posisi untuk siap kembali tidur. Namun, tampaknya seseorang yang tengah berusaha membangunkannya itu, tetap saja kembali mengguncang tubuhnya sampai akhirnya kelopak mata Basri terbuka lebar.

“Ada apa lagi, Ri? Apa mau diantarkan ke rumah sakit?” tanya Basri sambil menguap. Basri mencoba menggerak-gerakkan kepalanya karena ia merasa pusing setelah dibangunkan paksa untuk yang kedua kalinya.

“Keluarlah dulu, Bang.”

Basri tak banyak berkomentar. Ia lalu membuka pintu mobil dan menciba untuk berdiri walau masih sempoyongan.

Eri yang sedari tadi sempat merasa hati kacau tak karuan kini justru terlihat senyum sumringah. Wajahnya benar-benar cerah. Sampai-sampai ia tak mau kalah dengan sinar mentari yang hangat pagi ini.

“Anakku sudah lahir, Bang.”

“Benar? Syukurlah…! Lalu, laki-laki apa perempuan?”

“Dua-duanya.”

“Hah? Maksudmu?” Basri tampak tak mengerti akan jawaban singkat yang diberikan oleh Eri.

“Iya, Bang. Anakku kembar. Laki-laki dan perempuan,” jawab Eri bangga.

“Oh, syukurlah. Kalo begitu, selamat, ya. Kau kini sudah jadi ayah. Jaga mereka baik-baik. Aku mau pamit pulang dulu. Lagi pula, aku harus pergi ke kantor. Tugasku sudah menanti,” ujar Basri memberikan selamat sekaligus berpamitan untuk pulang.

“Tunggu, Bang. Aku ucapkan banyak terima kasih, ya. Karena, cuma abang yang mau membantu aku pagi-pagi buta tadi. Sebab, aku benar-benar bingung. Disini, aku tak punya keluarga. Dan aku pikir, abang tak mau membantuku karena masalah kemarin. Aku…” Eri tampak tak kuasa menahan haru atas kemurahan hati yang diberikan oleh Basri. Padahal sebelumnya, Eri adalah musuh besar Basri. Karena beberapa tahun silam, Eri sempat membuat Basri hamper terdepak dari kantornya. Eri menebarkan fitnah tentang Basri, bahwa Basri telah menyelundupkan sejumlah uang perusahaan untuk bersenang-senang. Padahal, tuduhan itu jelas-jelas tak beralasan. Malahan, justru Eri yang diketahui dengan sengaja mencoba brankas uang penyimpanan di ruang bendahara kantor. Karena perbuatan itu, Eri kini kehilangan pekerjaan. Dan untuk biaya persalinan istrinya pun, sesungguhnya ia tidak punya uang.

Tapi Basri bukanlah tipe orang pendendam. Basri menepuk bahu Eri dan mereka berpelukkan sebentar.

“Sudahlah, kau tak usah sedih begitu. Aku kan sudah memaafkan apa yang pernah terjadi itu. Aku mengerti akan kesusahanmu. Tenang saja, aku akan membantumu,” ujar Basri seraya menepuk bahu kanan Eri.

Semua yang terjadi, sungguh diluar dugaan Eri. Semula, ia pikir Basri tak akan mau memberikannya bantuan, meskipun hanya sekedar mengantarkan istrinya ke bidan. Tapi sekarang, ia justru mendapatkan lebih dari itu. Karena kejadian waktu itu, orang-orang yang pernah mengenal dirinya, lambat laun menjaga jarak dengannya. Mereka tak mau menjadi korban fitnah Eri seperti apa yang terjadi pada Basri.

Sekali lagi, Eri mengucapkan banyak terima kasih pada Basri. Baginya, Basri adalah malaikat yang diturunkan oleh Tuhan untuk membantu dirinya yang hina ini. Dimana sinar kebaikkannya seindah mentari subuh menjelang pagi.

Saturday, January 8, 2011

Perjalanan Bareng X-Kru..








Yop! Abis deh utang terbayarkan..! Karna resign dari Xpresi, dan yang tinggal cuma Meila, dia ngambek deh! Untung ngambeknya cuma minta ditraktirin doang. Beres itu sih...
Selesai makan es krim bakar di Kedai Ombai, lanjut deh jalan ke Jembatan Batanghari II. Kalo yang ini, udah janji sama dia barang kali terhitung hampir satu tahun lamanya. Gile, janji aja bisa selama itu. (Yang ingat aja udah selama itu, apalagi yang ngga ingetnya?!)
Kembali lagi deh beraksi si Ranger Pink dengan kameranya. Heboh deh kita tuh! Lagian, ydah lama juga ngga kumpul jalan berdua sama dia. Kalo kemaren kan, bisa jalan bareng pas ngambil liputan. Tapi sekarang? Kapan lagi coba? Secara, aku udah ngibrit dari Xpresi. Tapi setidaknya, aku lega deh! Soalnya, tuh utang udah kebayar! Lunas! Dan bisa bikin orang lain itu seneng, bisa buat hati lebih seneng lagi! Widiuw...!
lain waktu, kita jalan bareng lagi deh ya, Nek...
Capcus,,, maaf cabut duluan..
Keep fight ya!

Saturday, January 1, 2011

Catatan akhir tahun

Oke, ini dia catatan akhir tahunku. Dimana beberapa peristiwa bakal di flash back. Dikit aja, ngga banyak kok.
* Dimulai dengan menit setelah jam 12 malam berganti. Aku melalui malam bersama dengan si "chuby-qu" dan teman-temannya. Kumpul dalam pasukan anak cowok. -Well, emang dari dulu bukannya aku suka nimbrung sama cowok yah?-
* Terus, dibulan yang sama, perubahan terjadi untuk rublikku. Awalnya dari Deteksi jadi Xpresi. Tapi tetep, rublik tetap yang aku pegang ngga jauh-jauh dari cerpen dan puisi.
* Loncat dengan kejadian yang sempat bikin aku terkapar! Tepatnya bulan Mei lalu, aku jatuh bareng Meyla waktu mau ngeliput X-Band. Lumayan, dapat benjut di kepala plus kena omelan dari sobat terdekat!
* Bulan Agustus, sebenarnya udah pasti spesial lah ya. Secara, aku ultah diakhir bulan. Dapet kado yang lumayan segudang! Ada mp4 _from papa muda_, terus jamtangan dari faisal,prio dan ike, 2 boneka dari orang yang berbeda dong! Satu dari kk and the gank, yang satu lagi dari liza. Ada juga bros dan kayaknya udah deh!
* Desember ini, pas mau akhir tahun, tercetuslah The Duduls.com! Isinya emang pada dudul semua! Ada mbak put sbagai duduls 1, ike di posisi duduls 2, faisal duduls 3, prio si dududls 4, dan terkahir ya aku sendiri, di duduls 5! Kegiatan perdana kita, main ke Candi Muaro Jambi. Seru euyy,,,!
* Terakhir yang lumayan menyedihkan. Akhirnya, setelah menimbang, dan akhirnya memutuskan, aku memilih buat resign dari Xpresi. Aku relakan posisi ini ke orang lain. Soalnya, aku harus balik lagi fokus ke kuliah. Kan pengen cepet selesai tuh. Otomatis harus ada yang dikorbanin. Tapi, makasih banget buat Jambi Ekspres yang udah mau nampungaku selama satu setengah tahun ini. Thanks berat...!

Yap, udah cukup deh! Mo siap-siap buat tahun baruan sama sahabat.. Selamat tinggal 2010..................!!

Jangan sebut kami BENGAK!

hari ini, dengan lantangnya, ia berkata, "Guru-guru di sini bengak !" aku yang hanya bisa mendengarkan dari dalam ruang guru, ter...