Sunday, September 19, 2010

si pinky ini si meila...

ini nih salah satu sobatku yang nge-PINK banget! parah banget deh! dia sendiri sih dengan bangganya menyebut "Ranger Pink" buat dirinya. walah... heboh deh! bisa dibilang, tiada hari tanpa warna yang identik dengan kemanjaan ini.

semua bermula dengan perkenalan kita satu tahun yang lalu di sebuah rublik anak muda Jmabi. bergabung menjadi sebuah tim yang solid dan penuh dengan persaudaraan.
hingga kini, kita berteman baik-baik saja.
dia bener-bener anak yang sangat penuh optimistis dan sangant bersemangat. kayak pejuang '45 gitu... :)

pernah suatu kali, saat aku dan dia akan meliput, seperti biasa, aku nebeng sama dia plus mengendarai si pinky kesayangannya. entah apa yang meyilaukan pandangan dan kesadaranku, yang jelas, saat aku tersadar, aku sudah ada di rumah sakit. tergelatak lemas tak berdaya. tepat disampingku, ia berusaha membantu menyadarkan aku.
satu pernyataan yang sangat membuat aku terkejut, ternyata aku dan dia baru saja terjatuh dari motor. untungnya ia tak apa-apa. aku sangat mencemaskannya karena seminggu lagi ia akan pergi KKN. dan alhamdulillah, tak sedikit pun luka menghampiri tubuhnya.
aku suka sifatnya. yang periang, bener-bener ceria. tak hanya sebatas itu, ia pun juga pintar. seneng juga waktu denger nilai ujian sidangnya dapat A! banyangin aja coba! bukan hal yang mudah untuk didapatkannya. apalagi waktu itu, tepat satu hari sebelum ia sidang, kembali kecelakaan terjadi padanya. tapi ternyata, Allah sangat sayang padanya. ia selamat dan bisa menunaikan tugasnya dengan baik.
gadis yang baik, manis, ceria, semangat, mudah bergaul, penyabar, apalagi coba yang kurang dari dia. bagiku, ia sempurna!
hey teman, tetaplah terus seperti itu. menjadi seorang meila yang sangat memotovasi diriku untuk terus hidup! dengan semangat yang engkau tularkan pada semua orang, pastinya akan membawa dampak baik bagi orang yang mengenalmu.
chayo Ranger Pink!!! :)

Saturday, September 18, 2010

resensi Sang Pencerah

Sang Pencerah Bagi Negeri
Ada film bagus nih yang lagi wara-wiri di bioskop di Indonesia, ngga ketinggalan juga pastinya di bioskop Jambi. Film yang satu ini semacam rekam sejarah mengenai asal muasal organisasi Islam besar di Indonesia.

Berawal dari kepulang seorang tokoh dari Mekah, yaitu Darwis muda yang dibintangi oleh Ihsan Taroreh, yang mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda berusia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah/sesat. Melalui langgarnya yang terletak tepat di sebelah rumahnya, Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah, termasuk arah kiblat pada Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, yaitu Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo). Semua itu justru berbuntut pada penghancuran surau milik Ahmad Dahlan karena dianggap kafir. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.
Ahmad Dahlan Sang Pencerah juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa yang bernaung pada organisasi Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut untuk melangkahkan kaki guna menyebarkan kebenaran.
Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid-murid setianya, yakni Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan dengan tekad bulat pada akhirnya membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga tidak di injak-injak. Keputusan ini diambilnya setelah melakukan perenungan atas segala peristiwa yang telah dialaminya, serta hasil konsultasinya dengan para tetua di Budi Utomo. Pembentukan organisasi Muhammadiyah pun tak dapat dibilang bersih dari cerca. Meskipun Sultan Hamengkubuwono VIII merestui, namun tidak sejalan dengan Kyai Penghulu Kamaludiningrat. Dengan segala pengertian yang diberikan, pada akhirnya sang kyai pun merestui Ahmad Dahlan untuk menjalankan organisasinya tersebut.
Film ini didukung penuh loh oleh PP Muhammadiyah! Dan kayaknya kali ini sang sutradara yang tak lain juga merupakan suami dari Zaskia Adya Mecca yang ikut ambil bagian dalam film ini, bener-bener mendedikasikan diri demi film ini.
Daripada kalian ketinggalan nonton, mending buruan deh cabut ke bioskop. Nyesel deh kalo sampe ngga nonton! (mel)
(liputan X-Movie Xpresi Jambi 17/9/10)

dan ini dia...

dan ini dia...
pahlawan hidupku
yang berjuang sendiri
demi dua orang anak gadisnya
dan ini dia...
seseorang yang tengah bersusah payah untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah
demi keluarga tercinta
dan ini dia...
seorang pria paruh baya yang tetap berusaha terlihat tegar meskipun suasana duka tengah merundung hidupnya
dan ini dia...
seseorang yang tegas dalam pandangan
mungkin kau dapat berpendapat bahwa ia adalah golongan tua, terbelakang, tak mengerti akan kemajuan zaman
tapi tak apa, karena syariat agama jadi pegangan kuat dalam hidupnya
dan ini dia...
lelaki sederhana yang mencurahkan segala daya upaya demi kedua orang anaknya
yang dengan berani memilih untuk sendiri tanpa ingin mencari pendamping hidup yang baru
seorang yang setia, dan aku ingin bisa seperti dia
dan ini dia...
dan dia PAPAKU TERCINTA

Friday, August 20, 2010



The Rain adalah band asal Yogyakarta yang terbentuk pada tahun 2003. Sejak kemunculannya, The Rain terus mencoba eksis dengan merilis album tiap 2 tahun. Debut pertama mereka 'Hujan Kali Ini' dan 'Senandung Kala Hujan' tidaklah mengecewakan. Mereka lebih ceria, lebih segar, walau syair cinta nan mellow masih diusung band ini. Lirik boleh mendayu dan patah semangat, namun musik The Rain tidak demikian.

Band asal Yogyakarta itu membuka albumnya dengan hits single Boleh Saja Benci. Yang super ceria dan sangat selera pasar. The Rain menyadari bahwa lagu ini jelas menuai banyak pertanyaan dari para pecintanya. The Rain terlalu banyak berubah. Tapi tak dipungkiri lagu tersebut sangat easy listening. Begitu pula dengan Apakah Kau Merasa yang tak kalah catchy. Warna Hidup dimulai dengan gitar akustik. Masih terdengar pop ala The Rain, namun kali ini mereka lebih fun.

Seperti judulnya, lagu Dengan Sederhana justru menunjukkan sisi kesederhanaan band yang digawangi Indra (vokal), Ipul (bass), Aang (drum) dan Iwan (gitar). Lagu tersebut dipenuhi suara gitarakustik juga akordeon. Sementara di lagu Percaya lebih ke musik elektro.

Lagu yang paling membuat The Rain tak bisa berkutik yaitu Psychedelic Rain. Mereka membalut seluruh lagu dengan distorsi gitar.

Di lagu Untuk Sahabatmu The Rain lebih seperti The Beatles. Dan jangan kaget jika bisa menemukan nuansa lagu Tunggulah Aku di Jakarta milik Sheila on 7 di lagu Meninggalkan Cerita Ini.
Lagu terakhir yang tak boleh kamu lewatkan yaitu Perjalanan Tak Tergantikan. Awalnya lagu ini dibuka dengan gitar akustik. Namun kemudian muncul nuansa perkusi dan string section yang oke punya.

Personel:

Nama : Indra
Posisi : Vokal

Nama : Aang
Posisi : Drum

Nama : Ipul
Posisi : Bass

Nama : Iwan
Posisi : Gitar

Tuesday, August 3, 2010

Friday, July 30, 2010

resensi singkat buku "Layar terkembang"


Tuti dan Maria adalah kakak beradik. Anak dari Raden Wiriaatmaja, seorang mantan wedana di daerah Banten, yang masa pensiunnya di habiskan untuk hidup di Jakarta bersama dengan kedua orang anaknya.
Maria masih tercatat sebagai murid H.B.S. Carpentier Alting Stichting. Sedangkan kakaknya, Tuti telah menjadi seorang guru di sekolah H.I.S Arjuna di daerah Petojo.
Mereka berdua berkenalan dengan seorang pemuda bernama Yusuf saat pulang dari Pasar Ikan. Yusuf adalah seorang siswa di Sekolah Tabib Tinggi yang merupakan putra Demang Munaf di Martapura, Sumatera Selatan.
Pertemuan mereka ternyata cukup membekas di hati Yusuf dan Maria. Meskipun sesungguhnya Yusuf menykaui Tuti karena kecerdasan pikirannya serta keaktifannya di berbagai organisasi, namun sayangnya, Tuti belum mau mengikat janji dengan seorang pemuda yang tidak sesuai dengan kriterianya. Tuti menginginkan seorang calon pendamping yang juga memiliki pemikiran yang luas seperti dirinya. Maka dari itu, pilihan pun jatuh kepada Maria, yang lebih muda dan juga lebih manja daripada Tuti.
Waktu silih berganti. Tuti sibuk dengan semua kegiatan yang ia lakoni. Apalagi dia cukup aktif dalam oganisasi Putri Sedar, sehingga dia tak banyak memiliki waktu untuk mengurusi soal percintaan. Berbeda dengan Maria, adiknya. Hubungannya dengan Yusuf semakin intens. Dan mereka memutuskan untuk melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang pernikahan.
Namun sayang, semua hanya menjadi impian bagi Maria dan Yusuf. Suatu ketika, Maria terkena penyakit parah hingga ia di rawat di salah satu rumah sakit yang ada di daerah Pacet. Dokter berpendapat bahwa udara di sana akan lebih membantu proses penyembuhan bagi Maria.
Silih berganti Yusuf dan Tuti menemani Maria. Meskipun sudah dalam keadaan payah, namun Maria tetap bisa memberikan senyum terbaiknya untuk menyenangkan hati orang-orang tersayangnya. Karena ia tahu, bahwa hidupnya tak akan bertahan lebih lama lagi.
Sebagai permintaan terakhirnya sebelum pergi, Maria meminta kepada Yusuf dan Tuti untuk bersatu. Jelas saja mereka berdua menolak permintaan tersebut. Namun Maria bersikukuh bahwa ia tak ingin dua orang yang sangat ia sayangi tersebut, lepas ke pelukan orang lain. Yusuf dan Tuti hanya terdiam menanggapi permintaan Maria.
Benar saja. Tuhan punya rencana lain untuk Maria. Di usaianya yang ke 22 tahun, ia tutup usia. Jenazahnya di makamkan di perkuburan yang tak jauh dari rumah sakit dimana ia dirawat semasa hidupnya. Pada kesempatan berkunjung ke makam adiknya, Tuti membawa serta Yusuf. Dan dihadapan makam adiknya pula, Tuti memberitahukan bahwa ia dan Yusuf akan menkah setelah pertunangan yang telah diselenggarakan beberapa waktu silam.
Meskipun telah berkali-kali Tuti menolak jodoh yang dating kepadanya karena tidak sesuai dengan pekertinya sebagai perempuan yang aktif, pada akhirnya hatinya pun luluh untuk Yusuf, yang sebelumnya merupakan tunangan adiknya sendiri. Keinginan terakhir Maria pun mereka wujudkan demi kebahagian Maria. (mel)

Saturday, July 17, 2010

karikatur ku...



ini karikatur kedua yang Bang Edi Dharma buatkan untukku... sebelumnya, di buat saat aku dan Meila berkunjung dalam sebuah acara di Taman Budaya Jambi. selanjutnya yang ini. tapi, yang ini khusus di buat untuk membantunya mempromosikan Rumah Kartunnya. buat yang berminat membaut karikatur diri kalian, bisa hubungi melly langsung. oke...

Jangan sebut kami BENGAK!

hari ini, dengan lantangnya, ia berkata, "Guru-guru di sini bengak !" aku yang hanya bisa mendengarkan dari dalam ruang guru, ter...